Download APLIKASI UNTUK MENONTON FILM BOKEP YANG TERBLOKIR
X CLOSE Situs Poker Online Terpercaya

indosexqq Menikmati Tubuh Pacar Abangku

Cerita Dewasa Menikmati Tubuh Pacar Abangku – Sebelum kuliah di Surabaya, Sandy kuliah di perguruan tinggi di Jakarta. Di sana, ia mempunyai seorang pacar bernama Nita. Setelah setahun kuliah di Jakarta, Sandy dan Nita tidak betah, dan akhirnya mereka berdua pindah ke Surabaya (di universitas & fakultas yang sama).

Ketika pertama kali saya bertemu dengan Nita, saya terpana dengan parasnya yang cantik. Saya merasa Sandy sangat beruntung mendapatkan pacar seorang gadis yang cantik seperti Nita. Memang, Sandy bercerita bahwa Nita merupakan rebutan cowok-cowok di kampusnya (baik di Jakarta maupun Surabaya). Ketika bersalaman dengannya, saya tidak dapat melepaskan pandangan dari wajahnya yang sangat cantik dan imut itu.

Setelah perkenalan pertama dengan Nita, dia selalu terbayang dalam pikiranku. Apalagi Nita sering main ke rumah kami… oh iya, saya dan Sandy tinggal berdua di sebuah rumah di Surabaya). Setiap Nita datang ke rumah, saya pasti merasa deg-degan. Seakan-akan Nita adalah pacar saya sendiri ntah apa karena Sandy dan saya kembar, jadi saya merasakan hal ini ya? Kadang-kadang, Sandy & Nita suka berduaan di kamar Sandy, dan saya sering mendengar mereka cekikikan berdua di kamar. Saya jadi merasa iri dengan Sandy. Saya belum pernah punya pacar sejak dulu. Memang dibanding Sandy, saya anaknya agak lebih pendiam. Saya tetap punya teman-teman cewek, tapi bukan pacar.

Suatu kali, Sandy sedang pergi keluar kota bersama teman-temannya untuk beberapa minggu hampir sebulan kalau tidak salah. Nita tetap di Surabaya, karena dia mengambil semester pendek. Saya sempat merasa agak kesepian juga di rumah, karena saya hanya sendirian saja. Apalagi kalau Sandy tidak di sini, berarti Nita juga nggak akan datang ke rumah saya kan?

Nah, pada suatu siang di rumah, tiba-tiba saya seperti mendengar suara motor Nita dari kejauhan. “Ah, aku pasti terlalu merindukan kehadiran Nita”, pikirku, sampai suara motor lewat pun saya sangka suara motor Nita.

Eh, ternyata suara motor itu memang menuju ke rumahku, dan saya kaget, itu memang Nita! Dia mengenakan kaos ketat berwarna putih, dan celana jeans yang juga ketat. Sungguh menggairahkan sekali penampilannya saat itu. Saya gembira campur bingung, kenapa Nita datang ke sini, padahal Sandy kan lagi pergi?

“Halo Sander.. Sendirian aja ya di rumah? Kasian, ditinggal Sandy sendirian. Pasti sepi ya?”, kata Nita sambil menuntun motornya masuk.

“Iya nih Nit, sendirian terus tiap hari. Kamu tumben dateng ke sini? Ada angin apa Nit?”

“Ini San, aku mau ngambil catatanku yang dulu dipinjem Sandy. Soalnya ada perlu buat semester pendek.”

“Ooo.. kalo gitu masuk aja Nit. Aku kurang tau di mana Sandy nyimpen catatanmu. Liat aja di kamarnya.”, jawabku lagi.

Nita pun masuk ke kamar Sandy dan mencari catatannya di laci meja komputer Sandy. Sepertinya dia memang sudah tau kalau Sandy menyimpannya di sana. Untuk membuka laci itu, dia mesti agak membungkuk. Ketika membungkuk, bagian belakang baju kaosnya agak terangkat, dan tampaklah olehku punggungnya yang putih mulus. Wahh.. walaupun hanya sedikit yang tampak, tapi itu sudah membuat pikiranku melayang dan otomatis penisku pun ikut berdiri.

“Udah dapet nih San, catatannya.”, kata Nita kepadaku.

“Oh, di sana ternyata dia simpen ya? Oke deh. Itu aja yang perlu Nit?”, kataku dengan agak sedikit kecewa, karena kalau memang hanya itu tujuan dia ke sini, berarti dia udah mau balik dong..?

“Iya, ini aja. Aku pulang dulu deh ya San.”

Yaahh.., sebentar banget aku sempat ketemu dengan Nita, pikirku.. Kemudian Nita keluar menuju motornya. Di depan motornya aku melihat dia menggantungkan sebuah tas yang agak besar.

“Bawa apaan tuh Nit?”, tanyaku sama Nita.

“Oh, ini? Sebenarnya setelah ini aku bukan mau pulang sih. Aku rencananya mau ke tempat temenku. Numpang mandi. Abis, air di kosku lagi habis. Sumurnya kering San. Wah, jadi ketauan deh kalo aku belum mandi nih.. Jadi malu..”, kata Nita dengan agak malu-malu.

Wah.., kesempatan nih!

“Kenapa nggak mandi di sini aja Nit? Airnya banyak kok di sini. Daripada repot-repot ke tempat temenmu lagi. Gimana? Mau?”, cecarku dengan penuh semangat campur nafsu

“Mmm.., nggak apa-apa nih San?”, tanya Nita agak ragu.

“Nggak apa-apa kok. Bener. Suwer. Samber geledek.”, jawabku dengan sedikit bercanda.

“Ya oke deh kalo gitu. Aku numpang mandi ya..”

Yess.. Akhirnya aku punya kesempatan untuk bersama Nita lebih lama lagi.. Nita langsung masuk lagi menuju kamar mandi. Aku hanya dapat membayangkan apa yang terjadi di dalam kamar mandi itu. Aku membayangkan Nita membuka baju ketatnya, dan melepaskan celana jeansnya. Aku membayangkan bagaimana tubuh seksi Nita hanya berbalutkan BH dan celana dalam saja. Hhhmm.. penisku langsung tegang dengan sendirinya tanpa perlu kusentuh. Sedang enak-enak melamun, tiba-tiba pintu kamar mandi Nita terbuka. Oh, ternyata Nita masih mengenakan pakaiannya, tidak seperti dalam bayanganku.

“Sander, aku bisa pinjem handuk nggak? Aku lupa bawa nih. Sori ya ngerepotin.”

“Oh, nggak apa-apa. Ntar ku ambilin.”

Ketika aku memberikan handukku kepada Nita, terlihat tali BH Nita yang berwarna hitam di bahunya. Walaupun itu hanya seutas tali BH di bahu, tapi itu sudah cukup untuk membuatku berimajinasi yang bukan-bukan tentang Nita.

“Makasih ya Sander..”, wah, suaranya benar-benar bisa membuatku terbang ke langit ketujuh..

“eh, iya..”, jawabku.

Lalu Nita masuk kembali ke kamar mandi. Tak lama kemudian sudah terdengar suara cebyar-cebyur air. Aku tak dapat berhenti membayangkan tubuh Nita yang telanjang.. Kulitnya pasti mulus.., putih.., dan badannya sangat seksi sekali.. mmhh.. aku tak kuasa untuk menahan nafsuku.. Aku masuk ke kamar, dan masuk ke kamar mandiku letaknya tepat di sebelah kamar mandi tamu tempat Nita mandi.

Di dalam kamar mandi, aku langsung melepaskan seluruh pakaianku dan mengambil sabun untuk onani. Aku memegang penisku yang sudah sangat tegang rasanya belum pernah “dia” sebesar ini. Bayangan akan Nita benar-benar telah membuatnya sangat keras… Dengan sedikit sabun, aku mulai meremas-remas penisku, dan pelan-pelan mulai mengocoknya maju-mundur.. mm.. aku membayangkan ini adalah tangan Nita yang mengocok penisku.. oohh Nita.. andaikan kamu mau mandi bersamaku di sini.. hhmm.. Imajinasiku telah melayang ke mana-mana. Sedang asyik-asyiknya onani, tiba-tiba pintu kamar mandiku diketuk dari luar.

“Sander.. Kamu lagi mandi ya? Sori mengganggu lagi. Kamu ada sabun cuci muka nggak? Aku lupa bawa tadi..”, terdengar suara Nita memanggil.

Aku kaget! Wah, mana udah mau klimaks, eh Nita ngetuk pintu. Buyar deh imajinasiku yang sudah kubangun dari tadi. Wah, pasti Nita sudah pakai baju lengkap lagi seperti tadi, tidak telanjang seperti dalam bayanganku. Tapi nggak apa-apa deh, kan aku bisa ngeliat Nita lagi jadinya. Aku lingkarkan handuk di pinggangku untuk menutupi penisku yang tegang, lalu aku ambilkan sabun cuci mukaku untuk Nita.

“Ini Nit, sabun cuci mukanya”, kataku sambil membuka pintu.

Wahh.. ternyata Nita hanya mengenakan handukku yang kuberikan tadi, bukannya berpakaian lengkap! Rejeki lagi nih! Dengan balutan handukku yang tidak terlalu lebar itu, tampak kulitnya yang benar-benar putih mulus. Handukku hanya menutupi dari dadanya sampai sekitar 15 cm di atas lututnya. Tampak olehku pahanya yang begitu indah. Rambutnya yang basah juga memberi efek yang membuatnya semakin kelihatan seksi.. Tanpa bisa dibendung, penisku menjadi semakin tegang lagi..

“Makasih Sander.. Wah, bener-bener sori ya, jadi ngeganggu mandimu..”, kata Nita lagi.

“Ehm.., nggak apa-apa kok Nit.”, jawabku terbata-bata karena nggak kuat menahan nafsuku..

Tanpa kusadari, penisku semakin menyembul dan membuat handukku hampir copot. Jarakku dengan Nita waktu itu sangat dekat, sehingga penisku yang sudah berdiri itu menyentuh bagian perut Nita, penisku dan perut Nita sama-sama masih tertutupi handuk. Nita kaget, karena ada sesuatu yang menekan perutnya.

“Eh, aku mandi lagi ya San.”, kata Nita buru-buru dengan muka yang memerah. Sepertinya dia malu campur bingung.

“Mmm, iya.., aku juga mau mandi lagi”, jawabku juga dengan penuh malu.

Nita pun kembali ke kamar mandinya, dan aku juga masuk lagi ke kamar mandiku.

Di dalam kamar mandi aku berpikir, apa kira-kira tanggapan Nita atas kejadian tadi ya? Apa dia akan lapor ke Sandy kalau aku berbuat kurang ajar? Apa dia marah sama aku? Atau apa? Aku jadi takut.. Setelah termenung beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang kukerjakan tadi. Masalah nanti ya urusan belakangan. Baru saja aku mau mulai untuk onani lagi, pintu kamar mandiku diketuk lagi.

“Sander.., sori mengganggu lagi. Aku ada perlu lagi nih”, kata Nita dari luar.

“oh iya, bentar..”

Sekarang aku pakai CD & celana pendekku. Aku nggak mau terulang lagi kejadian memalukan tadi. Aku keluar dari kamar mandi.

“Ada apa Nit? Apa lagi yang ketinggalan? Mau pinjem CD?”, candaku pada Nita.

“Ah, kamu ada-ada aja.”, kata Nita sambil tertawa. Hhh.., manis sekali senyumannya itu..

Btw, dia masih mengenakan handuk seperti tadi. Seksi..!

“Gini San.. Waktu aku minjem sabun cuci muka tadi, aku tau kalo kamu sempat.. mm.. apa

ya istilahnya? Terangsang?”, kata Nita.

“Hah? Apa? Maksudnya gimana? Aku nggak ngerti?”, tanyaku pura-pura bego.

“Nggak apa-apa kok San. Nggak usah malu. Kuakui, aku tadi juga sempat membayangkan

“itu” mu waktu aku masuk kamar mandi lagi.

Aku bahkan hampir saja mau.. mm.. masturbasi sambil membayangin kamu. Tapi kupikir, ngapain pake tangan sendiri, kalo “barang”nya ada di sebelah?”, jawab Nita.

“Hhhaahh? Apa maksudmu Nit? Aku jadi makin bingung? Aku nggak”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Nita sudah meraba penisku dari luar celana pendekku.

“Ini yang kumaksud, Sander! Burungmu yang tegang ini! Aku menginginkannya!”, kata Nita sambil terus meraba-raba dan meremas penisku.

“hhmm.., Nita.. kamu..”

“Sander.. Walaupun aku pacarnya Sandy, kamu nggak usah malu begitu. Sejak bertemu denganmu di Djokdja ini, aku selalu membayangkanmu dalam setiap fantasi seksku.

Bukannya aku nggak cinta Sandy. Tapi dengan membayangkan sesuatu yang “tabu”, biasanya aku selalu menjadi begitu terangsang, dan selalu kuakhiri dengan masturbasi sambil membayangkan bercinta dengan saudara kembar pacarku sendiri.

Sander.. saat ini sudah lama kutunggu-tunggu. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya mengulum burungmu dalam mulutku. Bagaimana rasanya memainkan burungmu dalam vaginaku.. hhmm.. You’re always on my fantasy, Sander..”, cerocos Nita sambil semakin kuat meremas penisku masih dari luar celana pendekku.

“Ohh.., oohhmm.., Nita.. Aku.., juga.. selalu membayangkanmu dalam setiap onaniku.

Aku nggak tahan melihat kecantikan dan keseksianmu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku cemburu dengan Sandy. Aku selalu membayangkan tubuhmu yang putih, halus, lembut, dan seksi ini.. Aku menginginkanmu Nita..”, jawabku sambil meraba bahu dan tangannya yang begitu halus dan lembut.

Kemudian tanpa berpikir lagi, aku raih rambutnya dan kutarik mukanya ke mukaku, dan kucium Nita dengan buas. Kulumat bibirnya yang merah dan mungil itu. Inilah pengalaman pertamaku mencium wanita. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Apalagi tangannya masih terus meremas penisku yang sudah berdenyut-denyut dari tadi.

“Hmmpp.., mmhhmmhh..”, Nita juga membalas ciumanku dengan lumatan bibirnya dan lidahnya bermain-main di dalam mulutku.

Aku terus menghisap bibir & lidahnya, dan tanganku mulai meraba payudaranya yang masih tertutup handuk. Payudaranya cukup besar. Belakangan kuketahui ukurannya 34B. Terasa putingnya yang mengeras dari balik handuk.

“Ohh.. Sander.. remas susuku! Remas, San.. Ohhmmhh..”,

desah Nita di telingaku, semakin membuatku bernafsu.. Tanpa pikir panjang, langsung kulepaskan handuk Nita, sehingga tampaklah di depan mataku keindahan tubuh telanjang

Nita yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.

“Nita.. kamu sunguh-sungguh cantik.. Aku menginginkanmu..”.

Aku pun langsung menerkamnya dan tanpa membuang waktu langsung kuhisap payudaranya yang bulat & padat itu. Sebelumnya aku hanya dapat membayangkan betapa indahnya payudara Nita yang sering mengenakan kaos ketat itu. Bahkan pernah sekali dia mengenakan kaos ketat tanpa BH, sehingga tampak samar-samar putingnya yang merah olehku waktu itu.

“Sander.. Mmmhhmm.. Kamu benar-benar hebat Sander.. Bahkan Sandy tidak pernah bisa membuatku jadi gila seperti ini.. Ooohh.. hisap putingku San. Jilat.. hhmm..” jerit Nita yang sudah benar-benar penuh nafsu birahi itu.

Aku terus menjilati dan menghisap payudaranya, dan sekali-sekali kugigit karena gemas, sehingga payudaranya menjadi merah-merah. Tapi Nita tidak marah, malah sepertinya ia sangat menikmati permainan mulutku.

Bosan bersikap pasif, Nita pun melepaskan celana pendekku dengan penuh nafsu, sehingga tampaklah olehnya penisku yang sudah berdiri tegak hingga keluar dari pinggang celana dalamku.

“Besar sekali burungmu Sander! Wow.. Lebih besar dari pacarku yang dulu. Bahkan lebih besar dari punya Sandy! Kukira punyamu sudah yang terbesar yang pernah ada!”, puji Nita dengan mata berbinar ketika melihat penisku.

Nita menarik CDku hingga lepas, berlutut di depan penisku dan langsung menjilati telorku yang penuh bulu itu.

“Aahhmm.. enak sekali Nita..! mmhhmm.. Kamu memang hebat sekali..”,

aku meracau kenikmatan sambil terus membelai rambutnya yang indah.

“oohhmm.. aku suka sekali burungmu Sander.. besar, panjang, dan hitam.. oohhoohhmm..”,

Nita memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil, dan menghisapnya dengan kuat.

“Ahh.., Nita.. AAaaahahmmhh..”,

aku benar-benar dalam puncak kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan onani hanyalah sepersekian dari kenikmatan dihisap dan dijilat oleh mulut dan lidah Nita yang sedang mengulum penisku ini.

Nita dengan penuh semangat terus menghisap penisku, dan karena ia memaju mundurkan kepala & badannya dengan kencang, tampak olehku payudaranya bergoyang-goyang kesana kemari.

Ketika aku hampir mencapai klimaks, langsung kutarik penisku dari mulutnya, dan kupeluk Nita erat-erat sambil menjilati & menciumi seluruh mukanya. Mulai dari keningnya, matanya, hidungnya yang mancung, pipinya, telinganya, lehernya, dagunya, dan kuteruskan ke bawah sampai akhirnya seluruh tubuhnya basah oleh air liurku dan di beberapa tempat bahkan sampai merah-merah karena hisapan dan gigitan gemasku. Nita benar-benar menikmati perlakuanku terhadap tubuhnya, terutama ketika aku menjilati dan menghisap daun telinganya. Dia benar-benar merinding ketika itu.

“oohh Sander.., kamu hebat sekali.. Belum pernah ada sebelumnya yang bisa membuatku orgasme tanpa perlu menyentuh vaginaku. Ohhmm.. you’re the greatest..!”, kata Nita lagi.

Setelah beristirahat sejenak, aku mulai menjilati vagina Nita.

“Sander.. nikmat sekali.. kamu hebat sekali memainkan lidahmu.. mmhhmm.. aahhgghh..”, Nita benar-benar menikmati permainan lidahku yang mengobok-obok vaginanya dengan buas.

“Nita.., boleh aku memasukkan penisku ke dalam” belum selesai kata-kataku, Nita langsung memotong.

“Nggak usah minta ijin segala, masukin burungmu yang gede itu ke vaginaku cepat, Sander!”, potong Nita sambil memegang penisku dan mengarahkannya ke lobang vaginanya.

“Ahh.. sempit sekali Nita.. Mmmgghh..”, vaginanya benar-benar menjepit penisku dengan kencang sekali, sehingga sensasi yang kurasakan menjadi benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata. Pokoknya enak banget!!

“Ooouuuhh Sander.. burungmu besar sekali!! HHhhmmhh.. aahh.. nikmat sekali Sander!”

Perlahan-lahan, aku pun mulai menggoyangkan pantatku sehingga penisku yang gede dan hitam mulai mengocok-ngocok vaginanya. Nita pun juga menggoyangkan pantatnya yang putih mulus itu sehingga makin lama goyangan kami menjadi semakin cepat dan buas.

“Sandeerrrr.. hh.. hh.. hh.. aku suka burungmu! mmhh.. lebih cepat, cepat.. keras.. aku.. hhoohhmmhh..”,

racauan Nita makin lama makin tidak jelas.

“Aku hhaammpir keluuaar.. Nitaaa.. hhmmhh..”,

campuran antara goyangan, desahan, dan tampang Nita yang benar-benar seksi, merangsang, dan penuh keringat itu membuatku nggak tahan lagi.

“Keluarkan di dalam saja, Sander.. Aku jugaa.. mauu.. sampai.. hh..”.

“Aaahhhhmm.. aarrrhh.. ohmmm.. Nikmat Sekali.. Ahmmpp..!!” kami berdua mencapai klimaks pada saat yang bersamaan.

Setelah permainan yang dahsyat itu, kami sama-sama terlelap di kamarku.

Sewaktu terbangun ternyata hari sudah malam. Nita langsung pulang karena takut kos-kosannya sudah dikunci kalau kemalaman. Tapi kami berjanji untuk bertemu lagi esok hari, karena kami berdua masih ingin melanjutkan hubungan yang “tabu” ini. Kami sama-sama menikmatinya. Hahahaaa..

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *