Download APLIKASI UNTUK MENONTON FILM BOKEP YANG TERBLOKIR
X CLOSE Situs Poker Online Terpercaya

indosexqq Memperawani Murid Les Ku

Cerita Dewasa Memperawani Murid Les Ku – Kenapa lagi sih kamu ? “ tanyaku dengan nada sinis kepada Gina. “ Maaf kak… aku jarang latihan… Udah berkali2 kamu ga bisa ngikutin.. nadanya melenceng semua… jangan dikira tanpa latihan kamu bisa main biola dengan bagus” lanjutku

Gina hanya terdiam, matanya memandang ke lantai, seakan2 menghitung jumlah lantai keramik, atau sekedar mengira2 luas karpet yang melapisinya. Aku sebal. Sebagai seorang guru musik, hal yang paling menyebalkan adalah ketika muridmu tidak berlatih sama sekali.

Ditambah lagi, ketika aku sedang pusing mengerjakan tesis s2 ku, dimana mengajar biola adalah satu2nya hiburanku, murid yang satu ini membuat hatiku kesal. Gina, 18 tahun seorang mahasiswi yang kebetulan satu universitas dengan tempatku mengambil kuliah s2, menurutku sangat berbakat bermain biola.

Tapi dia jarang sekali latihan. Terdengar dari nadanya yang melenceng pertanda dia jarang menyentuh alat musik itu. Sebagai mahasiswa S2 yang membiayai kuliahnya sendiri, bermain musik dan mengajar musik adalah tulang punggung utama yang membiayai kuliahku.

Ayahku tidak bisa membiayai lagi kuliahku karena beliau sudah lama meninggal. Uang yang ibuku berikan setiap bulannya hanya cukup untuk membayar kos saja. Uang untuk kuliah, juga dibantu dari beasiswa.

Tetapi beasiswanya tidak penuh. Itulah mengapa aku menggunakan bakatku dalam bermain biola untuk mencari uang, mengajar maupun bermain di acara2 musik. Dari yang kulihat lewat facebook. Gina tampak senang sekali bermain dengan teman2nya entah itu nongkrong di cafe, jalan2 ke mall, maupun berkunjung ke Bandung dengan teman2nya.

Itu tidak masalah sebenarnya, tetapi jika dia meninggalkan latihan biolanya, itu masalah buatku. Ada orang yang bilang kalo muridnya ngaco, berarti gurunya yang gak bener. Itu membuatku menjadi gemas ketika Gina selalu membuat kesalahan ketika bermain. “udah ya, hari ini sampai disini saja” aku membereskan biolaku dan buku musik ku.

Tapi kak…” Gina memotong ucapanku,.. tapi kenapa ?? pokoknya minggu depan saya tes lagi yang tadi ya, jangan sampe ga bisa kayak sekarang.” Aku segera bergegas keluar, memakai jaket, mengisi absen guru di meja resepsionis, dan keluar untuk menyalakan mesin motorku. Sudah mau maghrib rupanya.

Gina menyusulku keluar. “Kak..maafin aku ya… Aku emang lagi banyak kegiatan akhir2 ini, jarang latihan…” Ucapnya. Ya sudah.. minggu depan perbaikin oke” aku memakai helmku. Saya pulang dulu ya” aku mengendarai motorku menjauhi tempat les itu.

Dari spion aku bisa melihat Gina masuk ke dalam mobilnya. Pertemuanku dengan Gina bermula ketika aku mengisi acara yang diadakan oleh kampusnya. Dia menjadi panitia, band yang beranggotakan diantaranya aku sendiri. Berawal dari ngobrol2 Gina rupanya bermain biola juga dan dia ingin belajar dariku.

Karena aku mengajar di salah satu sekolah musik yang mentereng di Jakarta, kusuruh saja dia daftar, dan dia pada akhirnya mendaftar untuk menjadi muridku. Sebenarnya Gina menyenangkan, senang melucu dan mudah akrab. Tetapi kekurangannya ya itu, malas berlatih dan entah hari2nya dihabiskan oleh apa selain kuliah.

Apakah itu main, pacaran, aku tidak terlalu tahu, karena obrolan antara aku dan Gina hanya berkisar musik lokal maupun musik global. Aku kembali ke kosanku, kunyalakan laptop hasil tabungan sendiri itu. Sebenarnya aku bukan dari keluarga yang kurang mampu, hanya saja ayahku orangnya disiplin dan tidak memanjakan anaknya.

Waktu aku kuliah s1 di bandung dulu, ketika mampu mencari uang sendiri, aku sudah mulai meringankan beban orang tuaku dengan tidak meminta uang jajan. Ketika sebelum aku lulus s1, ayahku meninggal dan wasiat terakhirnya adalah agar aku terus meneruskan sekolah.

Kujalani pesan ayahku, dan nyatanya walaupun hanya dari mengajar dan bermain musik, aku bisa menabung, membayar uang kuliah, dan menyicil motor, walaupun uang untuk kos masih dibantu oleh ibuku. Sedangkan Gina, bisa dilihat hidupnya amat mudah. Orang tua yang kaya dan memanjakan anaknya, terlihat dari biolanya yang terlihat baru dan kinclong, beda dengan biola tua ku yang hasil nabung sendiri itu.

Naik mobil kemana, jalan2, pacarnya pun aku kenal, walau hanya sebatas tahu sama tahu saja. Anak orang kaya juga. Kehidupan mereka berbeda jauh denganku. Tampaknya apa saja yang mereka inginkan mudah didapat.

Minggu depan Jam 3 sore. Aku menunggu hujan reda di kosanku. Jam 4 harusnya aku sudah di sekolah musik itu. Tapi karena aku memakai motor, maka aku hanya bisa menunggu. Waktu terus berlalu.

Hujan tidak reda. Maghrib sudah tiba, dan aku sudah menelpon ke sekolah musik itu untuk membatalkan les hari ini. Aku tidur2an di kasurku, malas untuk keluar kemana2 lagi. Tiba2 HP ku berbunyi. Aku melihat layar HP ku. Ternyata Gina yang menelpon.

“Halo kak…” Gina mengawali pembicaraan “Eh kamu, ada apa ? udah tau kan lesnya ga jadi? jawabku, Aku ada di depan kosan kakak” lanjutnya “Eh…. Ngapain ? “ aku heran. Gina memutus telponnya. Aku bergegas keluar dari kamar kosanku, dan kulihat Gina dengan basah kuyup terguyur air hujan, berdiri di depan gerbang kosanku.

Tanpa pikir panjang aku mengambil payung, lari dan membuka pintu gerbang. “Lho kamu kenapa ? kok kehujanan ? mobil kamu mana ? “ tanyaku bertubi2. Gina hanya diam saja. Dia menggigil menahan dingin, sekilas kulihat matanya memerah dan ada bekas tangisan.

Untung saja tidak ada orang yang lihat, jadi Gina bisa masuk ke kamarku. Karena kamar mandinya ada di dalam kamar, kusuruh Gina untuk mandi. Tak lupa kuberikan kaos ku yang ukurannya agak kecil dan celana pendek, juga handuk yang biasa kupakai. Aku agak khawatir sebenarnya. Karena di kosan ini tidak boleh membawa tamu perempuan ke dalam kamar.

Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau orang2 kosan mengira aku dan Gina melakukan hal2 yang tidak senonoh. Aku hanya diam menatap pintu kamar mandi. Suara air mengalir dari shower bisa kudengar dengan jelas. Tak berapa lama Gina keluar, dengan memakai baju yang tadi kusiapkan.

Dia sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan menggosok-gosokannya dengan handuk. Bisa kulihat matanya masih merah. “Kenapa sih kamu ?” aku memberanikan diri bertanya “Ceritanya panjang kak…” Katanya sembari duduk disampingku, di pinggir ranjang.

“kalo ga mau cerita ga usah dipaksa” aku lalu berdiri dan memakai jaket “Saya beli makan ya, kamu diem disini dulu, jangan ikut keluar, soalnya di kosan ini ga boleh ada tamu cewek masuk ke dalam kamar dan jangan ribut, nanti dikirain saya nyelundupin kamu ke dalem.. kataku kepadanya.

Apa yang ada di pikiran Gina sehingga dia nekat datang ke kosan guru musiknya. Aku berjalan dengan payung di tengah hujan, menuju tukang nasi goreng untuk memesan 2 porsi, dibawa pulang. Aku kembali ke kamar kosan.

Hujan telah reda. Aku membuka kunci kamar, dan menemukan Gina sedang menerima telpon dengan air mata yang menetes. Aku segera menutup pintu kamar dan menyiapkan makanan. Gina hanya diam saja, dan dia kemudian menutup telponnya.

“Eh… makan dulu…” aku menegurnya namun Gina hanya diam. Sejenak kami berdua terdiam beberapa saat. “ Kak ada tisu ? Gina akhirnya membuka mulut. Aku segera mengambilkan tisu dari laci meja belajarku. Gina mengusap air matanya dan menarik nafas panjang. Maaf ya kak aku ngerepotin” Gina mengambil makanannya dan mulai makan.

“Gapapa kok, santai aja” “Ntar kalo bajunya dah kering saya anter kamu pulang ya” jawabku. Ga usah kak… Aku mau disini aja.. pernyataan Gina membuatku kaget. Tapi, saya kan udah bilang, kosan disini ga boleh nerima tamu cewek sebenernya “ Aku sengaja mempertegas kata2ku.

“Aku gak akan ribut kak. Janji” jawabnya.. Aku hanya menghela nafas sambil ogah2an menyantap nasi gorengku. Apa sih maunya dia, begitu pikirku. “Kalo mau minum ambil tuh gelasnya di rak di deket pintu kamar mandi.. ucapku setelah Gina menyelesaikan makanannya. Gina menurut dan mengambil gelas, dan menuangkan air dari dalam dispenser.

Aku tidak menghabiskan makananku, dan menyalakan laptopku. Jujur saja aku bingung bagaimana harus menghadapi Gina. Aku jarang pacaran, ketika kuliah aku malah tidak sempat pacaran. Sibuk oleh kuliah dan musik. Apalagi sekarang, kuliah, musik, ngajar.

Itulah yang menyebabkanku agak canggung hanya berdua di kamar dengan seorang perempuan. “Kalau mau baca2 majalah itu ada di rak di atas kasur” Aku berkata seperti itu karena Gina terlihat hanya duduk di tepi ranjang dan memandang lantai dengan tatapan kosong Tapi Gina seakan tidak menggubris ucapanku.

Dia masih melamun “Gina. Kenapa sih ?” Aku makin penasaran. Gina tampak kaget mendengar pertanyaanku. “Hmm.. Aku heran kak… apa sih yang dimauin sama laki2” dia membuka dialog “Kenapa gitu ?” aku turun dari kursi dan duduk di karpet. Gina pun turun dari pinggir ranjang dan duduk di hadapanku. “Tadi aku rencananya bolos les kak…” jawab Gina “Terus ?”

Aku jalan2 sama pacarku tadi. Pas jam 4, jam harusnya aku les, aku di dalem mobil pacarku, dia lagi nyetir, rencananya mau jalan cari makan terus nonton” Gina melanjutkan ceritanya. “Entah kenapa HP dia ditaruh di dashboard. Aku pinjem, mau main game yang ada di hapenya.

Dia ngebolehin, tapi entah kenapa aku tiba2 pingin buka inbox smsnya” Halah. Pasti cowoknya selingkuh, begitu pikirku dalam hati. “Aku ngeliat sms2 mesra kak. Gak cuman satu tapi beberapa cewek” Buset. Pikirku. Jagoan banget tuh cowok. “Aku kurang apa sama dia coba ? bela-belain bolos les, bela-belain dia, selalu aku temenin, kok dia begitu sama aku ?” dia mulai menangis lagi.

“Jijik liat sms2 itu, sayang2an segala macem orang pacaran aja” Aku mengambilkan Gina tisu lagi karena airmatanya mengalir deras. “Terus gimana?” aku memintanya melanjutkan ceritanya. “Aku marah kak. Tapi dia cuman diem aja ga ngomong apa2. Akhirnya di lampu merah aku keluar dari mobil… “Kan ujan” jawabku sedikit tidak antusias.

Entah mengapa kasus ini sangat klasik pada orang2 yang pacaran. Tapi tampaknya Gina sangat terpukul oleh kejadian tersebut. “Biarin aja kak. Aku jalan, ngejauh dari mobil, aku bisa denger sih dia klakson terus… tapi setelah jauh dari mobilnya, aku bingung mau kemana.

Dan aku inget kalo tempat tadi deket sama kosan kakak. Makanya aku kesini” Memang dulu Gina pernah kesini diantar oleh pacarnya, mengambil buku lagu. “Terus ? kok kamu malah kesini ? ga pulang aja ?” tanyaku sambil berusaha meyakinkan dia agar pulang. “Males nanti ditanyain sama orang tua…kemana si pacar, kok pulang sendiri. Ribet “ jawabnya

“Lah kalo dicariin gimana ?” aku makin bingung “Aku udah bilang sama orang tua aku…mau tidur di rumah temen. “Tenang aja, mereka percaya kok…” Aduh. Entah mengapa menurutku Gina berlebihan dalam menghadapi masalah ini. Kenapa gak putusin aja cowok itu, cari taksi, pulang, tidur, besok lupa. Tapi dia malah repot2 pergi ke kosanku.

“Terus kamu mau ngapain disini ?” tanyaku dengan malas “Aku mau nenangin diri dulu kak…” Eh. Bukannya lebih enak di rumah ? disitu kan bisa nangis bombay di depan orang tua. Dijamin bakal ditenangin, abis nangis besoknya lega deh. Aku bingung melihat kerapuhannya menghadapi masalah ini.

“Yaudah lah terserah” kataku..tapi inget, jangan ribut, jangan keluar kamar, besok pagi saya anterin ke rumah” “Iya kak” jawabnya… Jam2 berikutnya diisi dengan obrolan2 yang biasa kami lakukan, soal musik, teknik bermain Biola.

Tak lupa aku menyetel musik keras2 dari laptop dan menyalakan tv agar suara kami tidak terdengar. Tanpa terasa sudah jam 10.30 malam “Aku ngantuk kak…” Kata Gina “Hmmm.. kamu tidur di atas aja, saya biar tidur di karpet” jawabku sekenanya. “Enggak kak… aku kan tamu.

Aku aja yang tidur di karpet” malah enak di gw. Aku pikir. Aku mengiyakannya dan menggelar selimut cadangan di karpet, untuk alas tidur agar agak empuk, dan memberinya selimut tipis serta bantal yang berlebih di ranjang. Aku mematikan lampu, dan juga naik ke ranjang, bersiap untuk tidur.

“Jangan dimimpiin kejadian yang tadi ya..” kataku mengingatkan “Iya kak…” Sepi. Aku hanya menatap langit2 sambil memikirkan caranya besok pagi keluar tanpa ketahuan yang jaga kos. Kebetulan aja tadi hujan besar sehingga penjaga kos tidak memperhatikan pintu gerbang.

Aku agak kesal dengan sikap Gina. Sudah malas latihan, dan tidak berpikir panjang. Sebenernya muncul rasa kasihan yang besar dalam diriku. Dia belum dewasa, belum bisa mengambil keputusan dengan matang, dan akibatnya seperti ini. Ada di kos2an guru musiknya, dan tidur di lantai. Yasudahlah. Mungkin Gina butuh teman malam ini, begitu pikirku.

Entah kenapa aku tidak bisa tidur malam ini, harus kuakui kehadiran Gina malam ini merusak pikiranku. Bukan jadi buruk, tetapi pikiranku menjadi kotor. Aku pernah melakukan seks, waktu baru kuliah dulu. Pengalaman itulah yang membuatku sedikit membayang2kan bagaimana kalau aku bercinta dengan Gina.

Gina memang cantik, kulitnya putih dan mukanya manis. Dan fakta2 itulah yang membuat pikiranku menjadi kotor. Coba kalau dia laki2. pasti aku santai2 saja. Lama aku tidak bisa tidur. Aku sengaja menghadap ke tembok agar tidak melihat Gina.

Tiba2.. Gleeeghhh. Aku merasa ranjangku dinaiki orang. Aku kaget, sedikit terkesiap tapi aku berhasil mehanannya. Rupanya Gina menaiki ranjangku. “Kak..aku tidur sama kakak ya..” katanya dengan nada merajuk. Damn, Aku tidak bisa menolak karena dia sudah naik ke atas ranjang.

“Ehh.. nih kalau mau pake selimut. Aku memberikan bagian selimutku pada Gina. Dia tampak agak malu, dan segera mengambil bagian selimutnya, dan tidur membelakangiku. Sial, Apa2an ini. Kenapa dia naik ? apa karena kedinginan ? atau keras ? atau kenapa ? Aku merasakan gerakan di sebelahku.

“Kak, maaf.. aku sebenernya masih pengen ngobrol” “gapapa kan ?” Aku membalik badanku dan mendapati bahwa jarak mukaku dan muka Gina tidak lebih dari 2 jengkal. Matanya yang memerah menatapku penuh harap. “Kamu ya.. Dengerin. Kenapa sih mesti gini ? kamu sekarang ada di kamar cowok, tidur bareng satu kasur. Ga pantes tau. Apa saya tidur di bawah aja ya” Aku berusaha bangkit.

“Ini yang aku suka dari kakak..” tiba2 Gina berkata seperti itu. “Eh….” Aku heran dan mematung sejenak “Kakak orangnya tegas..” gak kayak dia.. egois.. udah gitu ga pernah bisa tegas dan ga punya pilihan” Gina.. tapi” Kata2ku terhenti ketika tangannya menyentuh pipiku lembut. Aku suka sama kakak.. pengakuannya membuatku terhenyak.

Apakah benar ? apa Gina Cuma terbawa perasaan akibat baru mengalami kekecewaan dalam berpacaran ? Aku mematung. Terdiam. Dalam hati aku mengakui bahwa sosok Gina yang manis membuatku tertarik. Tetapi selama ini aku selalu mengabaikan perasaan itu karena 1, dia sudah punya pacar, dan 2 aku tidak ada waktu untuk perempuan ditengah kesibukan tesis, musik dan ngajar.

Kak.. tangannya terus mengelus pipiku. Aku pun luluh. Tiba2 kami berdua saling memajukan wajah kami masing2. kami menutup mata dan bibir kami pun bersentuhan. Kami berciuman dengan pelan dan lembut. Gina terus maju ke dalam pelukanku.

Aku meraih pinggangnya, dan menggenggam tangan satunya. Telapak kaki kami saling bersentuhan dan saling bertautan di dalam selimut itu. kami berciuman dengan hangat. Kami melupakan batas antara guru dan murid. Walaupun umur kami tidak berbeda jauh, hanya 4 tahun, namun rasanya ini seperti hal yang aneh antara guru dan murid. Walaupun guru dan muridnya hanya di sekolah musik saja. Kami berciuman sangat lama.

Entah kenapa kami berdua tidak berciuman dengan nafsu dan tergesa2. Tangan kiriku yang menyentuh pinggang Gina, tiba2 mulai nakal. Tanganku masuk ke dalam kaos yang dia pakai. Menyentuh kulit halusnya. Gina tidak berontak. Dia malah terus menciumiku. Gina pun tidak protes ketika tanganku masuk kedalam celana pendeknya dan memegang pantatnya.

Rupanya dia tidak memakai celana dalam dan BH. Aku melepaskan ciumanku, dan mulai menciumi telinga dan lehernya. “Aaaaahhhh Kak… Gina tampak menikmati perbuatanku. Tanganku terus bermain mencoba membuka celana pendeknya. Gina tidak berontak, kakinya malah beringsut membantuku melepas celana pendek itu.

Pada akhirnya aku melempar celana itu ke lantai. Aku mulai menyentuh pahanya yang sangat mulus. Aku memeluknya erat, menempelkan perutnya di perutku. “Kak… “Gina memanggilku “Kenapa ?” Aku menghentikan ciumanku di lehernya “Kalau mau itu.. pelan2 ya… aku belum pernah.. jawabnya pelan dengan nada pasrah dan tatapan penuh harap. Apa? Masih perawan ? aku kaget.

Kupikir setidaknya dia pernah tidur dengan pacarnya. Pantas saja dia tidak bisa menyikapi kelakuan pacarnya dengan benar, pengalamannya sangatlah minim. Aku terdiam. Mematung. Tidak dapat berpikir dengan jernih. “Gina kalau kamu gak mau, jangan…” aku mundur “Gak apa2 kak.

Kalau sama kakak aku mau… Gina meraih tanganku. “Kamu belum pernah.. jangan dipaksa kalau gak mau..” aku berusaha berpikir jernih. Gina terdiam, tetapi dia malah masuk ke pelukanku kembali. “Aku mau…” jawabnya pelan “Aku Cuma minta kakak perlakukan aku dengan lembut”

“Tapi” aku masih bertahan “Kak.. aku mau kasih ke kakak malem ini.. itu karena aku suka sama kakak dari pertama ketemu, tapi kakak tampaknya cuek sama aku… tapi aku makin suka karena tau kakak orangnya tegas, dewasa, Gina, itu cuman perasaan pelarian aja…” jawabku Gina hanya diam. Tetapi dia menjawab dengan semakin masuk ke dalam pelukanku.

Dia memelukku dengan erat, dan tidak mau melepasku. “Aku mau ngelakuinnya cuman sama kakak” Gina tetap gigih. Kami berpandangan sangat lama. Hingga akhirnya aku menciumnya kembali. Pertahanan akal sehatku runtuh. Tanganku terus melingkari pinggangnya yang ramping itu.

Gina perlahan2 bergerak menindih tubuhku. Badannya naik ke atas badanku. Tangannya mencoba membuka kaos ku tapi tampaknya dia agak canggung melakukannya. Aku melepaskan tanganku dari pinggangnya dan membantunya membuka atasanku. Setelah itu aku berusaha bangkit dan duduk. Gina memegang bahuku dan mencoba maju menciumku.

Aku menahannya dan memegang kedua tangannya. Aku menatap matanya lekat2. Gina menatapku malu2. Aku sedikit tegang. Malam ini kedua kalinya aku berhubungan seks. Dan ini yang pertama bagi Gina. Jantungku berdetak hebat. Aku menggenggam ujung kaos yang dia pakai. Pelan2 kutarik keatas. Gina menurut dengan mengangkat tangannya.

Gina sudah telanjang bulat di pangkuanku. Kedua tangannya disilangkan, menutupi buah dadanya yang kecil. Dia sedikit menunduk dan tampak sangat malu. Pasti ini pertama kalinya dia telanjang bulat di depan laki2. Aku memegang dagunya dan mengangkat wajahnya.

Tak berapa lama kucium bibirnya lembut. Aku menggenggam kedua tangannya dan mulai menciumi lehernya, terus sampai ke buah dadanya yang kecil Aku menciumi putingnya. Kurasakan badannya agak gemetar, entah karena geli atau agak takut.

“Uuuuuhhh…. Kak…geli…” Gina mendesah kecil. Aku berbisik kepadanya “Jangan terlalu berisik ya.. nanti bisa gawat kalau ketahuan penjaga kos..” Gina mengangguk pelan. Aku melanjutkan menciumi buah dadanya. Sempat kulihat Gina menggigit bibirnya. Menahan agar dia tidak ribut. “Eeemmmmhhhh…… ooooohhh…..” Gina terus mendesah.

Aduh, bagaimana nanti ketika kami sampai ke inti permainan ? Aku menyuruh Gina untuk turun dari pangkuanku. Aku segera melepaskan celanaku. Gina nampak agak kaget ketika melihat penisku. Ini pertama kalinya juga dia melihat penis lelaki langsung. Gina duduk di sampingku.

Gina, kalau kamu emang ga siap, mendingan gak usah…” Aku menatap wajahnya yang tampak malu bersemu merah, Ga apa2 kak… udah sampe sini…” dia tersenyum kecil walau aku bisa merasakan bahwa dia merasa gugup dan deg2an. Aku memegang lembut tangannya dan mencium keningnya. Lalu aku menariknya pelan agar kembali duduk di pangkuanku.

Gina duduk membelakangiku. Punggungnya sungguh mulus dan bersih. Aku mulai menciumi bahunya, terus sampai ke leher. Kupeluk erat pinggangnya dan bisa kurasakan tangan Gina memeluk erat leherku. Lama kuciumi bagian belakang leher dan punggungnya.

Tak tahan lagi, pelan2 kubimbing Gina untuk berbaring di kasur. Aku memegang lututnya dan kulebarkan pahanya. Aku menindih badannya. Tangan Gina menahan bahuku. Aku sejenak mematung memandangi Gina. Patutkah kurenggut keperawanan perempuan manis ini ? Haruskah dia melakukannya denganku ?

Gina balik menatapku dan berkata “Kak.. pelan2 ya… aku tau pasti sakit pada awalnya” “Kalau kamu gak mau, bisa kita hentiin sekarang kok… “aku menjawabnya. Gina menggeleng pelan. “Aku siap kak” Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya yang telah basah.

Pelan2 kugesekkan kepala penisku di bibir vaginanya. Gina mengejang2 geli. Aku memperbaiki posisi dengan menggenggam tangannya. Kurasakan pelan, penisku memasuki bibir vaginanya. Sempit sekali. Aku berkonsentrasi penuh memasuki vaginanya. Eeeeemmmmhhhh… Aaauuwwhhhhh….. Gina menahan sakit.

Bisa kulihat dia menggigit bibirnya dan matanya sedikit berkaca2. “Ooouhhhh” dia menarik napas lega ketika penisku masuk penuh kedalam vaginanya. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan. Gina tampak menutup matanya, dan meringis seperti menahan sakit. Aku mencabut penisku. Kulihat penisku berlumur darah perawan Gina.

Sakit ?? Kalau kamu ga tahan sakitnya ga usah dilanjutin.. Aku khawatir “Gapapa kak.. Gina tersenyum dengan mata agak berkaca2. Aku menarik nafas panjang, kuputuskan untuk tidak merubah2 posisi bercinta kami, terlalu dini untuk kami berdua. Ditambah lagi pengalaman kami berdua sangat minim. Aku kembali memasukkan penisku ke lubang vaginanya.

Sudah lebih mudah, walau masih sempit. Kurasakan dinding vaginanya yang hangat mengapit penisku erat. “Eeeemmmhhhh…kaaakk… “Gina mendesah pelan, dia sudah tidak meringis atau menggigit bibir lagi seperti sekarang.

Aku terus memaju mundurkan penisku dengan pelan namun temponya stabil. “Oooohhh… Aaaaaahhhhh……” Gina tiba2 mencengkram erat bahuku. Seakan ingin mencakarnya. “Eeemmmhhhhh….. Kaki Gina mencengkram erat pinggangku.

Aku tahu dia akan orgasme. Terlalu cepat mungkin. Tetapi wajar. Karena ini pengalaman pertama bagi Gina. Dia belum tahu bagaimana mengatur tempo, merubah posisi, ditambah lagi malam ini semuanya aku yang mengendalikan. Gina terus bersuara kecil mengikuti tempo goyanganku. “Uuuuuuhhhh…. Eeemmmmhh…. Aaaahhhhhh…. Ooohhhhh…. Tiba2 aku menghentikan gerakanku.

Aku tak ingin aku bablas keluar di dalam. Kaki Gina kuat mencengkram pinggangku. Malam ini adalah pengalaman pertamanya. Wajar jika dia tampak tegang atau gugup.

Aku tak mau jika ketegangannya mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan. Aahhh… kenapa kak ?” tanyanya polos dengan nafas tidak teratur “Enggak… tadi kamu ngejepit pingganggku terlalu keras… aku takut kalau nanti aku keluar di dalem…” jawabku.

Ohh… Gina, kamu santai ya sayang…” aku mengelus rambutnya lembut dan dia hanya mengangguk pelan. Pelan2 aku mengisyaratkan agar Gina tidur tengkurap. Dari belakang aku memposisikan kepala penisku tepat di lubang vaginanya. Pelan2 aku masukkan kembali.

“Eeeeennggghhhh….. Aaaaaahhhh……” Gina kembali mendesah ketika kumasukkan penisku. Aku memeluk pinggangnya dan membimbingnya naik. Kami bercinta dalam posisi doggy style. Tangan Gina bertumpu pada kasur. Aku menggerakkan penisku maju mundur sembari memegang erat pinggangnya.

“Uuuuhhhssssshhh… Oooouuuuuhhhhh.. Aaaaaaaaahhh…. “Gina tidak bisa menahan lagi suaranya. Entah karena kesakitan atau keenakan. Tapi kalaupun kesakitan, dia tidak berontak. Gina terus mengerang. Entah berapa lama kami melakukannya. “Kak.. akuuuu… Aaaaaaaahahhhhhhhhhhhhh…… Aku tau Gina akan segera orgasme. Tapi aku tidak mencabut penisku. Aku malah makin bernafsu menggerakkannya.

Tumpuan tangannya semakin lemas. Aku secara refleks malah menarik tangannya kebelakang agar posisi tubuhnya tetap stabil. Aku merasakan tubuhnya menegang dan vaginanya menjepit erat penisku. “Aaaaaaaahhhh Aaaahhhhh….. Eeeeggghhhh… Gina mengerang tanpa mempedulikan keadaan kamar kosku yang mungkin saja suara malam itu bisa bocor ke kamar sebelah.

Eeeeeemmmhhhh…… Aaaaaaaaaaahhhh…. Tak berapa lama aku langsung mencabut penisku dan spermaku lalu muncrat berantakan di luar vaginanya. Gina langsung dengan lunglai menjatuhkan diri ke kasur. Aku pun merebahkan diri di sebelahnya. Kami berpandangan dengan cukup lama dan berpelukan sampai kami tertidur.

Sekarang kami bukan murid dan guru lagi. Tapi lebih dari sekedar itu. Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar les, karena kami sekarang menjadi sepasang kekasih. Kejadian malam itu, adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupku.

Dan jika ada kesempatan kami selalu melakukan hal yang mengasikan tersebut..

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *