Download APLIKASI UNTUK MENONTON FILM BOKEP YANG TERBLOKIR
X CLOSE Situs Poker Online Terpercaya

indosexqq Gadis Cantik Disetubuhi Oleh 3 Pria

Cerita Dewasa Gadis Cantik Disetubuhi Oleh 3 Pria – Saat liburan di desa pada saat itu musim hujan, Susan berteduh di sebuah rumah yang ada terasnya, Susan pun melihat kejadian yang dimana ada seorang pria yang dipukuli oleh beberapa orang, Tiba tiba pintu rumah tersebut terbuka dan menyentak Susan untuk segera masuk kedalam rumah, seorang pria yang berbadan kekar menyeret tubuh Susan memaksa untuk masuk kedalam.

Pria berambut kucir itu segera membekap mulut gadis itu dan meminting tangannya ke belakang agar tidak berteriak lagi.

“Siapa dia !?” tanya Joko pada pria itu.

“Dia ada di halaman samping Bos, waktu saya panggil dia lari…dia pasti udah liat semuanya” jawab pria itu.

“Ngapain lu disini hah !?” bentak Joko.

“Mmhh…saya…saya cuma lewat mau pulang ke vila, tapi hujan tambah besar jadi saya kepaksa berteduh dulu…tolong lepasin saya, bener saya ga liat apa-apa!” jawab gadis itu ketakutan, matanya yang indah mulai berkaca-kaca.

“Bohong Bos, dia pasti udah denger dan liat semuanya!” potong si rambut kucir, “untung tadi saya sigap”

“Gimana nih Bos sekarang?” tanya Indra menunggu perintah.

Joko mengelus-elus dagunya yang berjenggot kambing itu sambil memandangi gadis itu. Usianya masih muda sekitar awal 18 tahunan, dari penampilannya sepertinya ia seorang mahasiswi.

Parasnya sungguh cantik dengan rambut hitam yang lurus dan panjang, tubuhnya yang langsing dibungkus oleh kaos hitam tanpa lengan dilapisi cardigan pink untuk melindungi dari udara malam serta bawahan berupa celana pendek longgar yang menggantung sejengkal di atas lutut sehingga memperlihatkan pahanya yang jenjang dan mulus. Pakaian dan rambutnya agak basah terkena hujan, nampaknya ia memang bermaksud berteduh.

“Siapa nama lu manis?” tanya Joko mendekati dan mengelus pipi gadis itu.

“Kalau ditanya jawab hah ! Siapa nama lo !?” bentaknya melihat gadis itu terdiam ketakutan.

“Saya…Susan, tolong lepaskan saya, saya gak akan bilang siapa-siapa” ibanya tanpa bisa menahan air matanya yang menetes membasahi pipi.

“Susan… hmeemmhh, nama yang indah, seindah rupanya hahaha!” Joko mengangkat dagu gadis itu, menatapi wajah cantik itu sambil tertawa disambut tawa kedua anak buahnya.

Rabaan Joko dari pipinya merambat turun ke leher, bahu, hingga akhirnya payudara kiri Susan.

“Jangan…jang…eemmhphp!” jeritan Susan langsung terhambat karena si pria berkucir kembali membekap mulutnya.

“Buka mulutnya Beni, biar aja dia teriak…ayo teriak, ga akan ada yang denger suara lu, daerah ini sepi dan lagi hujan!” kata Joko sambil tangannya mulai meremasi payudara gadis itu.

“Ayo kita nikmatin dulu cewek cantik ini, sayang kan yang bening gini lepas gitu aja…

“Siap Bos…kita juga kebagian kan, capek nih dari tadi mukulin melulu hehehe!” Indra nampak antusias dan tersenyum mesum, demikian pula Beni, temannya yang rambutnya dikucir itu.

“Hehe…emang Bos dingin-dingin gini paling enak ya ngentot!” sahut Beni yang tangannya mulai ikut menggerayangi tubuh Susan.

“Hentikan! Jangan lakukan itu!” jerit Susan sambil meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya bukanlah tandingan kedua pria itu yang telah menghimpit tubuhnya.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya menghindari Joko yang hendak melumat bibirnya, sementara tangan-tangan kasar mereka sudah bergerilya di tubuhnya. Dalam satu kesempatan ketika kuncian Beni mengendur karena sibuk menggerayangi tubuhnya

Susan berhasil menendang perut Joko dengan lututnya sehingga pria itu terhuyung ke belakang sambil mengaduh memegangi perutnya. Gadis itu buru-buru lari ke arah pintu, namun baru saja beberapa langkah sebuah tangan menariknya ke belakang.

Indra yang baru saja mengencangkan ikatan Robert dan mengikat mulutnya, rupanya bertindak cukup sigap. Ia berhasil menggapai cardigan gadis itu, menariknya hingga lepas dari tubuhnya. Sesaat kemudian gadis itu sudah berada dalam dekapannya.

“Bajingan! Lepaskan saya!” jerit Susan memakinya.

“Huehehe…mau kemana San…emmhh…uuh!” Indra memperkuat dekapannya sambil berusaha menciumi leher dan tenguk gadis itu.

“Plak! Aawww!” rintih Susan ketika telapak tangan Joko yang marah mendarat di pipinya.

“Diam perek!” bentaknya.

Air mata gadis itu makin mengucur membasahi pipinya ketika tangan Joko membetot keras kaosnya hingga robek. Mata ketiga pria bejat itu melotot melihat buah dada gadis itu yang masih terlindung di balik bra kremnya. Tubuh Susan bergetar saat Indra menyusupkan tangannya ke balik branya dan mulai meremas payudaranya dengan kasar, jarinya sesekali menjepit dan memelintir Putingnya.

“Wuih…ini bener-bener mantep Bos, montok bener!” celoteh Indra.

Susan semakin menangis mengiba dan menjerit ketika Joko menarik lepas branya. Terlihat dua buah payudara Susan yang bulat dan masih kencang.

“Wow…kenceng bener tetek lo San !! Enak tuh klo kita remes dan isep-isep. Hahahaha……”. “Liat Putingnya juga masih kecil. Nanti gw bikin keras dan mancung biar lebih seksi” celoteh Joko.

“Jangan nangis sayang, kita kan mau bersenang-senang. Hahaha….!” kata Joko sambil meremas payudaranya, “yang gini nih yang gua suka, bener-bener seger!”

“Ayo San, abang bisa kok bikin Non Susan kejang-kejang keenakan huehehehe!” Beni mendekatinya dan mulai menggerayangi tubuh atasnya yang sudah topless.

Desahan gadis itu di sela-sela tangisannya membuat ketiga pria bejat yang mengerubunginya semakin bernafsu. Tangan Beni kini merambat turun ke bawah, menyusup masuk ke pinggang celana pendek yang dikenakan gadis itu.

Susan merasakan tangan kasar pria itu menyentuh permukaan vaginanya, jari-jarinya mengelusi bibir vaginanya. Tubuhnya menggelinjang ketika jari-jari itu menyusup ke vaginanya dan mulai bergerak keluar masuk menggeseki dinding vaginanya. Pada saat yang sama, Joko menundukkan badannya dan melumat payudara Susan dengan gemas.

“Mmhhh…lepaskan…aaahhh-aaaaahh….jangan!” ia mulai mendesah tak tertahankan.

Indra menyibakkan rambut panjang gadis itu ke kanan agar bisa menjilati dan mencupang leher sebelah kirinya. Lidah Indra yang kasar dan basah itu menyapu telak kulit lehernya membuat bulu kuduk gadis itu merinding.

Mereka lalu menyeret tubuh Susan dan membaringkannya di atas sebuah meja kayu di ruangan itu. Joko yang mengambil posisi di antara paha gadis itu menarik lepas celana pendek berikut dalamannya. Kini vagina Susan yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat terekpos sudah membuat mata ketiga pria bejat itu nanar menatapinya.

“Wah…gua suka yang kaya gini, jembut lebat, bibirnya rapet!” sahut Joko sambil meraba kemaluan gadis itu yang sudah agak basah karena dipermainkan Beni tadi.

Ia lalu menusukkan jari tengahnya ke liang vagina Susan sehingga tubuh gadis itu mengejang dan jeritan kecil keluar dari mulutnya. Dengan gemas Joko memutar-mutar jarinya mengobok-obok vagina gadis itu. Tanpa bisa tertahankan Susan menggelinjang, ia memohon agar mereka tidak meneruskan perbuatannya sambil diiringi desahan-desahan yang justru membuat mereka semakin nafsu.

Sementara Beni dan Indra juga tidak tinggal diam, mereka ikut menggerayangi tubuh mulus Susan yang sudah terbaring tak berdaya. Indra mencaplok payudara kiri gadis itu dan mengemut-emutnya, dihisap dan digigitinya Puting susu itu hingga pemiliknya semakin menggelinjang dan mendesah tak karuan.

Susan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Beni hendak menciumnya, tapi reaksinya malah membuat pria itu tertawa-tawa lalu menjenggut rambut panjangnya, lidahnya langsung menyapu pipinya yang halus lalu menempel pada bibir tipis gadis itu. ‘eeemmhhh….eemmm!’ Susan mengatupkan mulutnya menolak diciumi Beni, namun rangsangan pada sekujur tubuhnya membuatnya tak tahan untuk tidak mendesah, Beni sendiri saat itu juga aktif menggerayangi lekuk-lekuk tubuh gadis itu.

Mulut Susan yang tertutup pun kian mengendur hingga akhirnya Beni berhasil memasukkan lidahnya ke mulut gadis itu dan mencumbuinya dengan liar. Lidah Beni mengais-ngais mulut Susan dan menyapu rongga mulutnya, ludah mereka saling bertukar dan tanpa sadar Susan pun mulai ikut memainkan lidahnya beradu dengan lidah pria itu karena libidonya semakin naik tanpa dapat ia kendalikan.

‘Eeenngghhh!’ lenguh gadis itu di tengah percumbuannya karena merasakan ada benda hangat basah menyentuh bibir vaginanya. Ia menggerakkan bola matanya melirik ke bawah sana dimana Joko tengah membenamkan wajahnya agar dapat melumat vaginanya.

Sensasi geli segera timbul dari bawah sana menjalar ke syaraf-syaraf kenikmatan di tubuhnya dan membuat birahinya semakin naik tanpa dapat ia kendalikan. Lidah Joko menyapu telak bibir vaginanya lalu menyusup masuk menggelitik dinding bagian dalamnya.

“Uuuummhh…gurih, bener-bener hoki kita hari ini bisa nikmatin yang sedap gini hahaha!” celoteh Joko di tengah lumatannya terhadap kewanitaan Susan.

Dengan dua jari ia membuka bibir vagina gadis itu semakin lebar sehingga menampakkan warna merah merekah. Sementara Indra terus menjilati kedua payudaranya secara bergantian, sebentar saja kedua gunung kembar itu sudah basah oleh ludahnya, bekas gigitan memerah juga tampak pada beberapa bagian.

Setelah hampir lima menit bercumbu, Beni melepaskan mulutnya dari Susan. Gadis itu bernafas terengah-engah sambil terisak dan mendesah. Belum terlalu lama ia mengambil udara segar Beni sudah menarik rambutnya sehingga kepalanya kini terjuntai ke bawah di tepi meja dan pandangannya terbalik.

“Aaah…jangg….eeemmphhh…mm mm!” kata-katanya terbelus karena Beni menjejalkan penisnya ke mulut gadis itu.

Pria itu memaju-mundurkan penisnya pada mulut Susan seperti menyetubuhinya, kedua kantung pelirnya menampar-nampar hidung gadis itu, aroma tak sedap segera menyergap hidungnya. Namun Susan tidak punya pilihan lain selain beradaptasi mengisap penis di mulutnya. Tubuhnya menggelinjang-gelinjang di atas meja kayu itu tanpa dapat ditahannya.

Tangan-tangan kasar dan lidah-lidah para pria bejat itu terus merangsang tubuhnya. Di bawah sana, lidah Joko menjelajah semakin dalam ke dalam vagina Susan dan menemukan klitorisnya. Daging kecil yang sensitif itu digigitnya pelan dan dihisap-hisap, kontan Susan pun semakin menggelinjang dan mendesah tak karuan dibuatnya.

“Eemmhhh….eemmmm!” dari mulutnya yang dijejali penis Beni terdengar desahan tertahan.

Sebentar saja Susan merasakan vaginanya makin berdenyut-denyut hendak mengeluarkan cairan klimaksnya. Akhirnya…sseeeerrrr…cairan bening dan hangat itu meleleh dengan derasnya dibarengi dengan mengejangnya tubuh gadis itu. Dengan rakus, Joko menyedot cairan itu seperti orang kehausan.

“Ssrruuuuppp…srrruupp…ini baru sip, hhmmm udah ga sabar gua jejelin kontol gua kesini!” kata Joko setelah puas menyedot cairan kewanitaan Susan.

Setelah itu ia buru-buru membuka celana dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras lalu mengarahkan kepalanya ke belahan bibir vagina gadis itu yang sudah becek siap melakukan penetrasi. Saat itu Susan yang masih mengulum penis Beni membelakkan mata merasakan sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke vaginanya.

Joko melenguh keenakan merasakan himpitan dinding vagina Susan yang begitu sempit dan bergerinjal-gerinjal. Tak lama kemudian ia mulai mengocok penisnya keluar masuk, mula-mula pelan hingga frekuensi genjotannya main naik dan menimbulkan bunyi kecipak dari gesekan alat kelamin mereka dan cairan dari vagina gadis itu.

Tubuh Susan tergoncang-goncang, demikian pula sepasang payudaranya sehingga nampak makin menggemaskan, sepasang gunung kembar itu tidak pernah lepas dari tangan dan mulut mereka.

“Hhuuuhh…seret banget…uuhh…ini baru top !” sahut Joko sambil menyetubuhi Susan semakin liar.

“Sepongannya juga sip Bos…edan kaya diisep-isep nih!” timpal Beni yang penisnya sedang dioral oleh gadis itu.

“Gantian dong Ben, gua juga pengen nyicipin, kayanya enak tuh ya!”

Beni mempersilakan Indra mengambil posisinya karena ia sendiri tidak ingin buru-buru keluar sebelum menikmati hidangan utamanya yaitu mencoblos vagina gadis itu. Pria berambut cepak itu segera meraih kepala Susan, gadis itu sempat mengambil udara segar sebentar dan sedikit terbatuk-batuk sebelum akhirnya mulutnya kembali dijejali penis, kali ini oleh Indra, pria itu memegangi kepalanya sehingga kini kepala gadis itu tidak lagi terjuntai terbalik yang membuatnya tidak nyaman.

“Sudah…saya moh…hhhmmmhh!” Indra memasukkan penisnya dengan paksa ke mulut gadis itu dan memotong kata-katanya.

Indra mendesah nikmat merasakan mulut gadis itu memanjakan penisnya dengan ludahnya yang hangat dan lidahnya. Susan nampak kewalahan karena penis Indra diameternya lebih lebar daripada milik Beni. Dengan susah payah Susan mencoba menggerakkan lidahnya menyapu kepala penis itu.

“Uuuhh…mantap San, yah…jilatin terus…emuttt!” desah pria itu sambil meremasi rambut Susan.

Beni menarik kursi ke dekat meja itu lalu duduk di atasnya, ia mengamat-amati tubuh mulus Susan yang sudah mulai berkeringat dan mengelusinya dengan kagum. Lidahnya terjulur keluar menjilati wilayah Puting gadis itu sementara tangannya yang satu meremasi payudaranya yang sebelah.

Di sisi lain, Joko semakin cepat menggoyangkan pinggulnya menyodok-nyodok vagina Susan dengan penisnya. Mulut pria itu menceracau tak karuan hingga akhirnya melenguh panjang, ia menekankan penisnya dalam-dalam ketika mencapai klimaks.

Akhirnya setelah belasan menitan menggarap Susan, Joko tidak bisa lagi menahan keluarnya spermanya yang mengisi vagina gadis itu. Pada saat hampir bersamaan, Susan pun kembali berorgasme, nafasnya mendengus-dengus, erangan tertahan terdengar dari mulutnya yang tengah dijejali penis, tubuh telanjangnya hanya bisa menggelinjang-gelinjang menyebabkan dadanya makin membusung dan membuat Beni yang sedang menyusu semakin bernafsu dibuatnya.

Terdengar suara ‘plok’ saat Joko menarik lepas penisnya dari vagina Susan, liang vagina gadis itu ternganga selama beberapa saat sebelum menutup kembali, cairan orgasmenya meleleh keluar dari liang itu bercampur dengan cairan kental berwarna putih susu membasahi selangkangan dan meja di bawahnya.

“Ayo siapa mau coba nih!” sahut Joko seusai melampiaskan nafsunya.

“Gua Boss…gua dah konak nih dari tadi!” Beni buru-buru mengambil posisi di antara kedua paha Susan, “eh, wan…turunin dulu dong, gua mau gaya doggy nih, biar lebih enak!”

Indra yang sedang asyik menikmati penisnya dikulum membantunya menurunkan tubuh gadis itu ke lantai. Susan berusaha beringsut untuk menjauh dari mereka, namun ia harus pasrah mendapati kenyataan bahwa tubuhnya sudah terlalu lemas untuk itu, belum lagi ditambah rasa nyeri pada vaginanya yang baru saja dibombardir penis Joko.

Beni mengatur tubuh Susan menungging di lantai kayu itu dengan bertumpu pada kedua lutut dan siku tangannya. Tak lama kemudian kepala penisnya sudah membelah vagina gadis itu.

“Aaaahhhahh…saaakit!” Susan mendesah lirih, “Aaaahhkk!!” Beni menyentakkan pinggulnya kuat-kuat setelah penisnya menancap setengahnya hingga benda itu melesak masuk dan gadis itu menjerit.

Tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk beradaptasi, Beni menyodok-nyodokkan penisnya dengan buas. Nampak sepasang payudara Susan terayun-ayun seirama goncangan tubuhnya menciptakan suasana yang semakin erotis.

Tangan kiri Beni meraih payudara itu dan meremasinya sambil terus menyodoknya dari belakang. Erangan Susan semakin keras, matanya merem-melek, secara refleks ia juga turut menggerakkan pinggulnya mencari kenikmatan. Joko dan Indra tertawa-tawa melihat reaksi gadis itu.

“Hahaha…tuh kan jadi ketagihan, tadi nangis-nangis minta dilepasin sekarang malah pengen dientot !” ejek Joko.

“Biasa Bos…belum tau enaknya dia hahaha!” timpal Indra.

Sodokan Beni semakin cepat, lenguhannya bercampur dengan erangan Susan memenuhi ruangan itu, ditambah lagi dengan bunyi tumbukan alat kelamin mereka, ‘plok…plok…plok!’. Sementara itu, Robert yang terikat tak berdaya hanya bisa menyaksikan gadis itu diperkosa tanpa bisa berbuat apa-apa.

Sebenarnya ia merasa sangat kasihan dan ingin menolongnya, namun apa yang dapat diperbuatnya? bahkan nasibnya sendiri sedang di ujung tanduk. Secara naluriah, ia sendiri terangsang melihat gadis secantik Susan diperkosa massal oleh ketiga bajingan itu, tanpa dapat ditahan penisnya pun mengeras karenanya.

“Oooohh…oohhh…enak kan San…seretnya!” ceracau Beni yang terus menggenjoti gadis itu dan meremas-remas payudaranya.

“Ditanya jawab yah!! Enak gak San !!” Beni menjambak rambut panjang gadis itu hingga kepalanya menengadah.

“Aduuhh….aaahhh…iyah enak…saaakit, jangan ditarik gitu….aaaaahh!” rintih Susan yang wajahnya semakin berlinang air mata.

Ketiga pria bejat itu tertawa-tawa, ejekan-ejekan yang melecehkannya terus keluar dari mulut mereka.

“Ayo Ben…bikin non Susan kelepek-kelepek hahaha!” kata Indra.

Merasa tertantang Beni semakin mempercepat sodokannya pada vagina gadis itu. Hingga akhirnya tak lama kemudian pria itu semakin melenguh-lenguh, frekuensi genjotannya semakin cepat dan remasannya pada payudara gadis itu semakin keras.

Desahan Susan bercampur dengan rintihan kesakitan. Dengan satu lenguhan panjang, preman berkuncir itu menancapkan penisnya dalam-dalam dan melepas orgasme. Untuk kedua kalinya vagina Susan terisi dengan sperma, ia dapat merasakan kedutan-kedutan penis pria itu dan cairan pejunya yang hangat memenuhi rahimnya. Ketika Beni mencabut penisnya nampak cairan spermanya bercampur cairan kewanitaan gadis itu membentuk untaian sepanjang lima centian.

“Nih…bersihin!” perintah Beni menarik rambut Susan dan mendekatkan penisnya yang belepotan ke bibir gadis itu.

Susan pun melakukan yang diperintahkannya, penis itu ia jilati dan kulum, cairan-cairan yang berlumuran disana dijilatinya hingga bersih sampai sisa-sisa sperma pun dihisapinya.

“Hhheessshhh…ngisepnya jago juga lu San, dah pengalaman ya!?” komentar Beni

“Lu perek yang suka beroperasi di puncak ya San, hahaha!” ejek Indra membuat kupingnya memerah.

“Husss…yang bener aja lu dra perek disini mana ada yang bening gini, biasanya item-item kaya babu gitu hehehe” sahut Joko.

Susan merasakan tubuhnya luluh lantak sehingga ia harus bersandar pada kaki meja menopang tubuhnya, namun ia masih merasakan kurang karena bersama Beni tadi ia hampir mencapai klimaks namun pria itu sudah lebih dulu klimaks dan menarik lepas penisnya.

Sekarang giliran Indra mencicipi tubuhnya, pria cepak bertubuh besar itu mendekapnya, lalu duduk di kursi dan menaikkan gadis itu ke pangkuannya dalam posisi memunggungi.

“Angkat badan lu dikit manis!” perintah Indra di dekat telinga Susan, “buka memek lu terus masukin nih kontol gua”

Orgasme yang tidak kesampaian membuat Susan menikmati persetubuhan itu. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, tangan kanannya membuka lebar-lebar bibir vaginanya dan yang kiri menggenggam penis Indra yang berurat, mengarahkannya memasuki liang senggamanya.

Ia mulai menurunkan tubuhnya pelan-pelan setelah dirasanya kepala penis itu menyentuh bagian tengah vaginanya. Desahannya mengiringi proses penetrasi penis itu. Berkat cairan kewanitaan yang telah membanjiri vaginanya, penis besar Indra lebih mudah memasuki vaginanya, namun tetap saja rasa ngilu mengiringinya karena vaginanya sudah sejak tadi digempur.

Indra lalu memutar wajah Susan dan melumat bibirnya. Susan membalas permainan lidah pria itu sambil beradaptasi dengan penis yang menyesaki vaginanya itu. Tanpa disuruh, Susan mulai menggerakkan tubuhnya naik turun tanpa melepas percumbuannya dengan preman itu.

Kedua tangan kasar Indra terus bercokol pada payudara gadis itu, meremasi, memilin atau mencubiti Putingnya. Goyangan tubuh Susan kian cepat, mulutnya juga semakin menceracau menahan nikmat. Joko yang mulai bernafsu lagi mendekati mereka, ia meraih kepala Susan dan menjejali mulut gadis itu dengan penisnya.

Beni juga tidak membiarkan tangan gadis itu yang nganggur, ia menggenggamkan penisnya pada tangan gadis itu dan memintanya untuk mengocok. Sambil menikmati vagina Susan, Indra mencium dan menjilati leher jenjangnya, sementara tangannya bergerilya menggerayangi lekuk-lekuk tubuh yang mulus itu. Tanpa dapat ditahan Robert yang terikat di kursi juga terangsang melihat adegan itu, tak terasa penisnya juga mulai basah karenanya.

“Eeemm…eemmmm…uuhh… oohhh!” suara desahan Susan yang tertahan oleh penis Joko.

Ia merasakan penis itu semakin bertambah keras di mulutnya. Joko tidak lagi memegangi kepalanya, Susan menggenggam sendiri penis itu sambil memaju-mundurkan kepalanya dan mengulum-ngulum benda itu.

Sementara tangannya yang satu sedang mengocok penis Beni dengan kecepatan sedang disertai pijatan membuat pria itu melenguh menahan nikmat. Tak lama kemudian mengeluarkan penis Joko dari mulutnya dan ganti mengoral penis Beni.

“Bagus…sekarang udah nurut ya! Udah ketagihan kontol rupanya” kata Beni.

Tanpa mempedulikan komentar-komentar yang merendahkannya itu, Susan terus mengulum dan mengocoki penis Joko dan Beni sambil menaik-turunkan tubuhnya. Lidahnya menyapu kepala penis Beni dan menggelitik lubang kencingnya membuat pria itu semakin tak tahan hingga tak lama kemudian…croot…ccroot…diiringi lenguhan panjang Beni mengeluarkan spermanya di mulut gadis itu.

“Uuoohh…enakhh!” lenguhnya sambil memegangi kepala gadis itu, “isep San…isep kuat…minum peju gua!

Susan gelagapan namun mau tidak mau ia harus menghabiskan cairan peju yang tertumpah di mulutnya itu, baunya sungguh tajam dan kental, sebagian cairan itu meleleh di sudut bibirnya karena yang keluar cukup banyak.

Ia terpaksa menelan cairan peju kental itu agar tidak terlalu terasa di mulutnya, selain itu juga dihisapinya penis Beni yang semakin menyusut itu dan dihisapi sisa-sisa spermanya hingga pria itu akhirnya mencabut penisnya dengan puas.

Baru sebentar penis Beni lepas dari mulutnya, Joko yang penisnya sedang sedang dikocok olehnya juga mencapai klimaks. Penisnya berkedut-kedut dan menyemprotkan isinya ke wajah cantik gadis itu. Pria itu tersenyum puas setelah berejakulasi di wajah gadis itu. Sperma di wajah Susan turun hingga mengenai payudaranya yang bulat padat.

“Mulutnya dibuka!” perintahnya, ia lalu mengarahkan penisnya ke mulut Susan sehingga cipratan spermanya masuk ke mulut gadis itu.

Kembali mulut Susan dijejali penis, kali ini oleh Joko yang memintanya mengisap dan membersihkan miliknya itu dari sisa-sisa sperma. Mereka tertawa-tawa melihat keadaan Susan dengan wajah telah belepotan sperma.

“Hehehe…gitu lebih cantik Non, lumayan tuh buat krim wajah, jadi tambah cantik!” ejek Beni.

Terlihat sekali Susan menikmati perkosaan atas dirinya itu, tubuhnya sudah dikuasai dorongan seksual tanpa menghiraukan cemoohan ketiga pemerkosanya itu. Ia meliuk-liukkan tubuhnya sehingga penis besar Indra semakin mengaduk-aduk vaginanya.

“Uuuhh…ngehek…mau keluar nih…eerrrhhhh!!” geram Indra sambil menurunkan tubuh Susan dan bangkit dari kursi tanpa melepas penisnya yang tertancap.

Susan segera menumpukan kedua tangannya pada tepi meja di dekatnya, persetubuhan itu berlanjut dengan posisi si pria menyodoki dari belakang sambil berdiri dan si wanita berdiri nungging dengan bertumpu pada bibir meja di depannya.

Dengan posisi demikian Susan merasakan penis Indra menyodok semakin dalam dan semakin kencang. Desahan Susan semakin menjadi-jadi, mulut gadis itu membuka bulat dan mengeluarkan desahan yang susul menyusul dengan lenguhan pria itu.

“Aaahh…aaaakkhh…ooooouuhh!” Susan mengerang sekuat tenaga seiring dengan ledakan orgasme yang seakan meledakkan tubuhnya dari dalam.

Tubuhnya mengejang dengan dahsyat, vaginanya semakin becek dan semakin kuat mencengkram penis Indra yang juga sudah mau meledak. Pria berambut cepak itu pun akhirnya tak tahan lagi, dengan satu dorongan keras dilesakkannya penisnya dalam-dalam pada vagina Susan.

“Uuuhhhh Ooohhh!” Indra mendesah nikmat sambil menumpahkan spermanya mengisi vagina gadis itu.

Pria itu meresapi orgasme itu dengan memeluk tubuh mulus itu merasakan kehangatan tubuh gadis itu menyatu dengan tubuhnya. Tangannya meremasi payudara gadis itu dan mulutnya menciumi tenguk dan pundaknya.

“Wah…gua konak lagi nih, sini Non sama abang lagi!” Beni yang penisnya mulai mengeras lagi meraih lengan Susan begitu Indra melepaskan dekapannya.

Tubuh Susan saat itu demikian lemah lunglai setelah mengalami orgasme panjang bersama Indra, namun Beni sepertinya tidak terlalu mempedulikannya. Pria itu duduk selonjoran di lantai dan mendudukkan gadis itu di selangkangannya.

“Aaaaaahhh aahhhh!!” desah Susan merasakan vaginanya kembali dimasuki penis.

“Yah Non…turun terus, masuk nih…uuuuhhh gitu!” Beni merasakan nikmat penisnya terjepit himpitan vagina gadis itu.

Pria itu menyentakkan pinggulnya ke atas setelah lebih dari setengah batang penisnya melesak ke vagina Susan, akibatnya tubuh gadis itu pun ikut tersentak dan jeritan kecil keluar dari mulutnya tanpa tertahankan.

“Goyang Non!” perintah pria berkuncir itu.

Susan pun mulai menaik-turunkan tubuhnya. Beni menikmati goyangan gadis itu sambil mengenyoti dadanya yang kanan. Tangannya menjelajahi kemulusan tubuh gadis itu. Lima menit kemudian Joko mendekati mereka dan mendorong punggung gadis itu ke depan sehingga pinggulnya lebih menungging.

“Lubangnya masih ada kan, gua sekarang mau nyoba lubang yang ini nih!” kata Joko sambil mencucukkan jarinya ke dubur Susan.

“Aaaaahh…jangan, jangan disitu!” Susan mengiba ketika pria itu mulai mengarahkan penisnya ke lubang belakangnya.

Beni memegangi lengan Susan yang meronta-ronta sementara Joko terus menekan penisnya memasuki anus gadis itu. Susan merintih menahan sakit merasakan lubang belakangnya dimasuki paksa oleh penis pria itu. Jari-jari pria itu sudah lebih dulu memasuki lubang itu untuk membuka jalan bagi penisnya.

“Aaaaww….sakkiitt…aarrhh! ” mata Susan membelakak dan mulutnya menjerit merasakan nyerinya anal seks secara paksa itu.

“Uuuggh…sempitnya!” lenguh Joko mengomentari lubang dubur Susan yang jauh lebih sempit dari vaginanya.

Penis kedua pria itu menyodok-nyodok kedua lubang Susan seperti mesin saja. Robert yang terikat di kursi sempat bertatap mata dengan gadis malang yang sedang diperkosa itu. Ia melihat beban penderitaan yang sangat berat pada mata gadis itu, dari tatapan matanya seolah ia ingin meminta tolong pada dirinya.

Simpati, kasihan, marah, dan terangsang bercampur-baur dalam hatinya. Ia benar-benar muak dengan kebiadaban para begundal itu, mereka seolah tidak cukup menyiksa dirinya, tapi juga menzalimi orang lain yang tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini.

Giginya gemertak dan tangannya mengepal keras, seandainya saja ia mampu melepaskan ikatan, ingin rasanya menghajar ketiga pria amoral itu dan membebaskan gadis itu. Tidak tahan terus menyasikan, ia hanya dapat memalingkan wajah atau memejamkan mata tidak tahan melihat kebiadaban itu.

Kini Indra juga maju, ia mengangkat wajah gadis itu dan menyuruhnya mengoral penisnya yang mulai bangkit lagi. Pria itu dengan paksa menjejali mulutnya dengan penis sehingga membuat Susan tersiksa karena gelagapan.

Sambil menahan nyeri pada duburnya yang sedang dibombardir Joko, vagina yang sedang dipompa, ia mulai menjilati penis Indra yang dimasukkan ke mulut Susan. Beni yang sedang memompa vagina Susan memegang kedua lengan Susan dan merapatkannya.

Joko yang sedang menggenjot anus Susan dengan kasarnya dia memilin dan meremas2 kedua payudara Susan yang bulat dan padat tersebut. Sementara Indra yang asik dioral oleh Susan menelusupkan 2 jari kedua tangannya ke lipatan ketiak Susan dari belakang dan mengocok2 didalamnya

“Eemmm…eengghhh..mmmhh!” desah gadis itu tertahan.

Dengan diserangnya seluruh bagian sensitif tubuhnya, Susan merasakan darahnya semaking berdesir, gelombang klimaks akan segera menerpanya kembali. Namun sebelumnya, Joko sudah terlebih dulu orgasme karena sempitnya lubang belakang gadis itu. Ia melenguh panjang, menarik penisnya dan menyemprotkan spermanya membasahi punggung dan bongkahan pantat gadis itu.

Baru setelahnya, sekitar lima menit kemudian Susan mencapai puncak kenikmatannya, tubuh mulusnya menggelinjang hebat di atas tubuh Beni, mulutnya mengeluarkan erangan panjang, tangannya mengocoki penis Indra semakin cepat.

Kedua bawahan Joko itu menurunkan tubuh Susan dan menelentangkannya di lantai. Beni terus menggenjotnya sampai lima menit ke depan hingga akhirnya ia mencabut penisnya dan menumpahkan spermanya membasahi perut gadis itu. Tubuh Susan semakin blepotan cairan peju itu setelah Indra menuntaskan hajatnya dengan menyemburkan spermanya di wajah gadis itu.

Ketiga pria tak bermoral itu pun meninggalkan tubuh telanjang gadis itu terbaring lemas bersimbah keringat dan sperma. Mereka tertawa puas berhasil menikmati kehangatan tubuh Susan. Mereka mulai memakai kembali pakaiannya.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *