Download APLIKASI UNTUK MENONTON FILM BOKEP YANG TERBLOKIR
X CLOSE Situs Poker Online Terpercaya

indosexqq Gadis Cantik Diperkosa SekDes

Cerita Dewasa Gadis Cantik Diperkosa SekDes – Diantara rombongan itu, Irene adalah gadis yang paling pendiam. Sifatnya itu membuat dirinya terlihat begitu anggun dan berwibawa, tanpa terkesan angkuh. Padahal kalau mau jadi angkuh pun orang menganggap hal itu tidak terlalu berlebihan kerena Irene punya semua hal yang bisa dibanggakan. Irene adalah anak seorang pengusaha kaya, selain itu dia sendiri juga sangat cantik dan menawan. Wajahnya yang bulat telur ditambah hidungnya yang mancung menegaskan kecantikannya yang tidak kalah jika dibandingkan dengan artis sinetron atau fotomodel. Yang paling disukai dari diri Irene adalah matanya yang sangat bening dan bercahaya dan giginya yang gingsul di sebelah kiri yang jika tersenyum akan menampakkan deretan gigi yang seputih mutiara. Rambutnya yang hitam legam dimodel shaggy sebatas pungung, bisanya selalu dibiarkan tergerai.

Sore itu, Irene terlihat segar setelah mandi. Tubuhnya yang langsing tapi padat setinggi 165 cm terlihat seksi terbalut baju berleher rendah lengan panjang warna biru muda. Kakinya yang sekal terbalut celana jins ketat biru.

Rapi amat, tegur salah satu teman pria satu pondokannya. Mau pergi ke mana?

Irene menoleh sesaat menatap temannya.

Mau ke tempatnya sekretaris desa. Jawab Irene ringan. Soalnya tadi siang aku mau ngambil data di balai desa tapi datanya disimpan sama Sekdes itu.

Kalau gitu kamu bawa kunci nih. Temannya melemparkan sebuah kunci pintu. Soalnya semua juga pada pergi sampai besok. Jadi malam ini kamu sendirian di sini.

Sendiri? Irene keheranan. Kalian pada mau kemana?

Ada urusan ke kota sebentar. Jawab temannya sambil tersenyum. Nggak lama kok. Jadi jangan takut ya tidur sendiri.

Irene mencibir sambil berlalu, diiringi tawa kecil temannya. Dia bergegas pergi sebelum hari menjadi gelap, dia tahu kalau hari sudah gelap akan sulit baginya untuk pulang. Dia berjalan dengan agak tergesa-gesa. Beberapa penduduk yang menyapanya hanya dibalasnya sekilas.

Rumah Sekretaris desa sebenarnya tidak terlalu jauh dari pondokan tempatnya menginap. Tapi rumah itu menjorok ke dalam ditutupi oleh kebun dan pohon yang sangat lebat membuatnya tidak terlihat dari jalan. Apalagi rumah itu juga terpisah agak jauh dari rumah yang lain. Masuk ke pekarangan tumah itu membuat Irene serasa masuk ke sebuah pemakaman tua. Bau daun lembab terasa begitu kental di sekitarnya. Saat melangkahkan kakinya di atas tanah yang tertutup daun-daun kering itu sebenarnya perasaan Irene sudah mulai tidak enak. Dalam hatinya dia menyesal kenapa dia harus ke rumah seseram ini seorang diri, tapi Irene juga tidak dapat menyalahkan teman-temannya.

Irene berdiri ragu-ragu di depan rumah itu. Rumah separo kayu separo batu itu terlihat kusam dan tua. Lumut yang tumbuh di tembok-temboknya makin mengesankan kalau rumah itu mirip sekali dengan pemakaman tua seperti yang biasa dilihatnya dlam film-film horor.

Irene mengetuk pintu rumah yang terbuat dari lembaran kayu kokoh itu beberapa saat. Tak berapa lama pintu itu terbuak. Seorang pria tua berdiri di depan Irene. Pria itu bertubuh gemuk dan pendek, jauh lebih pendek dari Irene sehingga terkesan Irene berdiri bersama orang cebol. Kepalanya sudah nyaris botak, hanya sebagian rambut di dekat telinga saja yang masih ada, itupun semuanya sudah memutih. Sebuah kumis sebesar pensil melintang di wajahnya yang gemuk dan berminyak. Dialah Parto, sekretaris desa.

Neng Irene kan..? kata Pria tua itu mengagetkan Irene yang dari tadi terkesima dengan penampilannya.

Eh.. iya Pak Parto.. jawab Irene tergagap. Dalam hatinya Irene juga bertanya kenapa tiba-tiba dirinya dilanda kegugupan yang luar biasa. Pak Parto itu mempersilakan Irene masuk ke rumahnya. Irene tertegun menatap ruang depan tempat sekarang dia dan Pak Parto duduk. Ruangan itu tidak terlalu besar, didominasi oleh meja dan kursi kayu tua yang sekarang mereka duduki. Tidak ada hiasan apa-apa di dinding rumah sebagian terbuat dari kayu itu, kecuali sebuah tengkorak kerbau besar dengan tanduknya yang sangat panjang melengkung mencuat ke atas.

Maaf ya Neng, rumahnya kotor. Kata Pak Parto pelan. Soalnya istri sama anak saya pergi ke rumah orang tuanya, sudah seminggu lebih. Jadi saya sendirian di sini.

Irene hanya menjawabnya dengan O pendek karena tidak tahu harus ngomong apa.

Saya sudah siapkan semua Neng. Pak Parto menunjuk ke tumpukan map dan kertas yang ada di meja. Sesuai dengan permintaan Neng Irene.

Pak Parto lalu membuka map di depannya satu-persatu dan menyerahkannya pada Irene.

Yang ini data penduduk, yang ini data tanggal kelahirannya, yang ini data kepemilikan harta benda… Pak Parto memilah-milah kertas yang tadi tersusun rapi sehingga sekarang semuanya bertebaran di atas meja. Keduanya mulai terlibat pembicaraan serius mengenai data-data desa yang ada di meja. Irene mendengarkan setiap penjelasan Pak Parto dengan serius sambil sesekali menunduk melihat data yang dimaksudkan. Tanpa disadarinya, setiap kali dia menunduk, bajunya yang berleher rendah terjuntai ke bawah membuat sebuah celah lebar yang memungkinkan siapapun yang ada di depannya untuk melihat ke dalamnya. Pak Parto tertegun tiap kali menatap apa yang ada di balik baju itu. Sepasang payudara putih mulus yang terbungkus BH warna putih tipis berenda begitu jelas terlihat menggantung seperti buah melon lunak yang siap dimakan. Disengaja atau tidak, gejolak birahi Pak Parto yang sudah seminggu lebih ditinggal istrinya mudik langsung melonjak tinggi membuat tubuhnya panas dingin dan gemetar. Celakanya, sampai sekian lama dipelototi, Irene tidak juga sadar kalau cara berpakaiannya membuat Pak Parto blingsatan menahan dorongan seksualnya yang setiap saat siap meledak.

Irene sendiri kemudian mulai memperhatikan kalau pandangan Pak Parto mulai tidak fokus lagi. Dilihatnya Pak Parto kelihatan gelisah seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Pak.. Irene menegur pelan. Pak Parto nggak apa-apa kan?

Untuk beberapa detik Pak Parto seperti melamun seolah pikirannya berada di tempat lain. Baru setelah Irene mengulangi pertanyaannya agak keras Pak Parto langsung tersadar.

Eeh.. iya.. A.. apa tadi..? tanyanya gugup menyembunyikan keadaan dirinya yang sesungguhnya.

Bapak nggak sakit kan..? tanya Irene lagi. Dari tadi saya lihat Bapak gelisah sekali.

Eh.. tidak.. um.. yah.. Pak Parto menjawab kebingungan. Memang.. tadi sih Bapak agak tidak enak badan. Jawabnya berbohong. Sesekali pandangannya melirik ke tubuh Irene.

Waah.. saya jadi nggak enak sudah mengganggu istirahat Bapak. Kata Irene.

Oh.. nggak.. nggak apa-apa kok Neng. Pak Parto menjawab cepat. Saya senang bisa membantu Neng Irene. Katanya tenang meskipun pada saat yang sama, otaknya mulai sibuk memikirkan sebuah siasat. Maka setelah mambulatkan tekadnya, Pak Parto berdiri dari duduknya.


Tunggu sebentar ya Neng, Bapak ambilkan minum dulu. Kata Pak Parto sambil berlalu. Irene sempat mencegah, tapi Pak Parto sudah terlanjur masuk ke ruangan sebelah dalam.

Hampir sepuluh menit lamanya Pak Parto di ruangan dalam, terdengar suara berkelontangan seperti benda logam jatuh ke lantai. Pak Parto kemudian keluar sambil membawa dua buah gelas berisi teh hangat yang masih mengepulkan uapnya.

Jadi ngerepotin nih Pak.. Irene tersenyum malu sambil menerima gelas yang disodorkan padanya.

Ah.. cuma air teh ini.. jawab Pak Parto sambil tersenyum aneh. Diminum Neng.

Eh.. iya Pak.. kata Irene yang tidak menaruh curiga sedikitpun. Dia memang sebenarnya sudah haus karena obrolan panjang lebar tadi. Diminumnya seteguk air teh dari gelasnya, rasa hangat mengalir di dalam tenggorokannya. Tanpa disadari, Pak Parto tersenyum memandang setiap gerakan Irene. Irene kemudian minum beberapa teguk lagi membuat isi gelasnya berkurang separuh.

Mereka kemudian meneruskan membahas data-data desa, tapi perlahan Irene mulai merasakan ada yang salah dengan dirinya. Matanya sekarang mulai menjadi berat sekali, tubuhnya pun mendadak menjadi lemas dan pandangannya mulai mengabur membuat pemandangan yang ada di sekelilingnya menjadi bayangan abu-abu samar. Dalam keadaan itu, Irene sempat melihat Pak Parto tersenyum lebar padanya sebelum akhirnya Irene terkulai pingsan di meja.

Irene tidak tahu apa yang dilakukan oleh Pak Parto di dalam. Pak Parto, yang didorong oleh keinginan nafsu liarnya, mencampurkan obat tradisional yang tidak berbau dan berasa ke dalam minuman Irene. Pemandangan payudara Irene yang indah yang dilihatnya lewat kerah baju Irene yang menjuntai membuat dorongan seksualnya bangkit dengan sangat menggebu, hal itu yang membuatnya nekad melaksanakan rencana dadakan yang disusunnya dalam sekejap.

Perlahan Irene membuka matanya, kepalanya masih terasa berat, pandangannya masih kabur, membuatnya tidak bisa melihat dengan begitu jelas. Irene hanya merasa keadaannya sekarang menjadi tidak biasa. Dia merasa saat ini sedang terbaring terlentang di atas sesuatu alas yang agak keras, semacam kasur tua yang sudah tidak bisa menahan berat badan secara sempurna. Dirasakannya pula posisi tangan dan kakinya seperti terlentang ke empat arah yang berbeda. Saat kesadarannya pulih sepenuhnya barulah Irene terkejut bukan main. Dia berada dalam sebuah kamar tertutup. Tubuhnya terbaring di atas sebuah ranjang kayu beralas kasur tua dengan posisi tangan dan kaki terpentang ke empat penjuru membuat tubuhnya seperti membentuk sebuah huruf X di atas kasur. Irene mencoba menarik tangan dan kakinya tapi tidak bisa. Dia baru sadar kalau kaki dan tangannya diikat oleh seutas tali yang ditambatkan pada pingiran ranjang. Tali itu meregang kuat sekali merentangkan tangan dan kakinya sehingga membuat Irene nyaris tidak bisa bergerak. Irene perlahan merasakan hembusan angin seperti membelai langsung pada kulit pahanya. Seketika dia menjerit. Celana panjangnya ternyata sudah lepas dari kakinya. Dia hanya memakai baju longgar dan pakaian dalam.

Irene meronta kuat-kuat mencoba menarik tali yang mengikat tangan dan kakinya, tapi sia-sia, tali itu terlalu kuat untuk tenaganya yang terbatas.

Tolongggggg! Irene menjerit sekuat tenaga.dengan harapan ada yang akan datang menolongnya.

Tolooongggggg! Irene kembali berteriak sekuatnya sampai tenggorokannya seakan pecah. Toooo…… Sekali ini teriakan Irene berhenti di tengan jalan ketika dilihatnya Pak Parto masuk ke kamar dan menutup pintunya pelan nyaris tanpa suara.

Eh.. sudah bangun ya Neng.. katanya seolah tidak terjadi apa-apa pada Irene.

Apa maksudnya ini Pak..? Kenapa saya dibeginikan..? Irene bertanya dengan nada bergetar. Rasa takut mulai menjalari tubuhnya membuat badannya gemetar.

Pak Parto dengan santainya duduk di tepi ranjang tepat di samping Irene.

Tidak apa Neng, Bapak tidak akan menyakiti Neng Irene kalau Neng Irene tidak melawan. Kata Pak Parto kalem sambil menyeringai seperti seekor serigala lapar menghadapi mangsanya. Bapak cuma minta sesuatu dari Neng Irene.

Tubuh Irene seperti disengat listrik, Pak Parto berkata demikian sambil membelai-belai pahanya yang putih dengan gerakan lembut, seolah sangat menikmati setiap jengkal kulit paha Irene yang mulus.

Jangan Pak.. jangan.. atau saya akan teriak. Irene mencoba mengancam.

Teriak saja Neng. Bapak tidak keberatan kok.. Pak Parto berkata kalem. Tapi Bapak yakin tidak ada yang mendengar Neng teriak.

Tolooonggg! Irene melaksanakan ancamannya. Tolonggg Sayaaa!

Tapi setelah berkali-kali berteriak sampai serak, tidak ada sesuatupun yang terjadi, tidak ada yang datang untuk menolongnya. Jangankan manusia, hewan pun tidak ada yang lewat di sekitar situ. Irene makin putus asa. Benar kata Pak Parto, sampai suaranya habis tidak ada satupun yang menolongnya. Perlahan Irene mulai tegang dan ketakutan, air matanya meleleh karena putus asa.

Benar kan Neng.. tidak ada yang dengar.. kata Pak Parto penuh kemenangan. Saya ini Sekretaris Desa Neng, orang kedua setelah Pak Kades, jadi saya punya pengaruh di sini, warga di sini tahu siapa saya, karena itu mereka tidak akan berani ikut campur apapun yang terjadi di rumah saya.

Kata-kata itu bagai vonis kematian bagai Irene. Ketakutannya makin menjadi-jadi, dia makin putus asa sehingga tidak bisa lagi berpikir jernih.

Jangan Pak.. Ampun… jangan sakiti saya. Irene hanya bisa menohon dengan nada memelaskan.

Bapak kan sudah bilang Neng, kalau Neng menurut, Bapak nggak akan menyakiti Neng. Kata Pak Parto sambil pelan-pelan membelai rambut dan wajah Irene. Bapak sudah seminggu lebih ditinggal istri Neng, Bapak cuma minta Neng mau Bapak ajak begituan. Katanya sambil menunjuk ke arah selangkangan Irene.

Jangan Pak.. Jangan.. Jangan lakukan itu.. saya mohon.. Irene menangis sejadi-jadinya. Tapi Pak Parto yang sudah kehilangan akal sehatnya makin tidak sabar menghadapi Irene yang melawan. Maka dia segera naik ke atas ranjang. Dengan gerakan pelan dia mulai membuka kancing baju Irene satu persatu dan menyingkapkannya ke samping. Seketika itu payudara Irene yang masih terbungkus BH putih tipis mencuat menggemaskan. Irene terbaring dengan tubuh hanya tertutup BH dan celana dalam tipis.

Ohh.. pentil yang baguss.. kata Pak Parto tanpa menghiraukan tangisan Irene. Perlahan diremasnya payudara Irene dari luar. Irene menegang merasakan sentuhan tangan Pak Parto yang kasar pada kedua belah payudaranya. Selama ini hanya pacarnya saja yang pernah menyentuh payudaranya. Sekarang seorang tua buruk rupa dan tidak tahu diri yang melakukannya.

Ohhh.. pentil yang lembut. Ujar Pak Parto dengan ekspresi begitu menikmati setiap jengkal payudara Irene. Lalu tangannya merogoh ke dalam mangkuk BH Irene dan meremas payudara itu dengan lembut.

Oooohh…. Irene merintih lirih saat tangan Pak Parto benar-benar menyentuh payudaranya. Sebuah sensasi menyenangkan segera menjalari tubuhnya yang menegang.

Oohh.. lembut sekali.. Pak Parto mengomentari payudara Irene. Mimpi apa ya semalam, bisa dapat pentil sebagus dan selembut ini? gumamnya tidak jelas. Irene hanya bisa menangis mendapat perlakuan buruk itu. Remasan tangan Pak Parto pada payudaranya terasa menyakitkan, tapi herannya Irene juga merasakan sebuah perasaan aneh. Perasaan yang mengatakan sentuhan tangan ini berbeda dengan sentuhan tangan pacarnya, karena itu meskipun mulutnya menolak, tapi tubuh dan pikirannya berkata lain. Perasaan itulah yang menyebabkan Irene membiarkan perlakuan Pak Parto pada payudaranya.

Ooohh.. sekarang kutangnya dibuka ya Neng.. kata Pak Parto pelan. Irene hanya diam saja mendengarnya. Sebagian pikirannya sudah mulai dirasuki nafsu birahi yang perlahan meninggi. Melihat hal itu Pak Parto makin bersemangat, dengan satu sentakan kasar, BH Irene ditariknya sampai putus. Sekarang payudaranya mencuat telanjang, begitu putih, mulus dan kenyal siap untuk dinikmati oleh Pak Parto.

Oohhh.. Pak Parto terpesona mengagumi bentuk payudara Irene yang indah. Ini baru yang namanya pentil.. sudah montok, putih, mulus pula.. Lalu pelan-pelan dirabanya kedua belah payudara mulus itu, kemudian dengan gerakan seperti orang mencuci baju, payudara Irene diremasnya dengan kekuatan penuh.

Aaahh.. Irene menegang, tubuhnya melengkung ke atas membuat payudaranya makin membukit, hal itu tidak disia-siakan oleh Pak Parto, dia makin gencar meremas-remas payudara Irene. Lalu pelan-pelan giliran bibirnya yang berkumis tebal yang maju, dengan gerakan lambut, dijilatinya kedua puting payudara Irene dengan lidah dan bibirnya, sesekali dikulumnya puting payudara itu seperti gerakan bayi yang minum susu ibunya. Gerakannya sangat lembut membuat Irene terlena. Perlahan desahan nafasnya mulai tidak teratur, gerakannya juga mulai liar. Beberapa kali Irene melenguh penuh perasaan saat bibir Pak Parto mengulum puting payudaranya.

Perlahan Pak Parto mulai mengarahkan sentuhan tangan dan bibirnya ke bagian bawah tubuh Irene menyusuri perut Irene yang licin dan berhenti di selangkangan Irene yang terkuak lebar. Perlahan digosoknya begian selangkangan Irene dengan jarinya, sentuhan jari pada bibir vaginanya membuat Irene menjerit tertahan.

Bapak pingin tahu nih gimana sih bentuknya tempik cewek kota. Maka dengan gerakan kasar, Pak Parto merobek celana dalam Irene, celana itu sangat tipis dan nyaris transparan sehingga tidak perlu tenaga besar untuk merobeknya. Sekarang Irene sudah sempurna bertelanjang bulat.

Uoohh.. Pak Parto terpana melihat belahan bibir vagina Irene yang masih sempurna, tidak ada sedikitpun rambut di sana karena Irene rajin mencukur rambut kemaluannya. Tempiknya bagus bangeet.. Neng pasti belum prnah ngentot ya.. tempiknya masih bagus nih..

Irene menggeleng ketakutan, dia memang belum pernah melakukan hubungan badan. Paling jauh, dia dan pacarnya hanya melakukan petting, itupun masih dengan celana dalam terpasang.

Belum pernah ngentot? Kalau bagitu bapak beruntung bisa memperawani cewek kota yang secantik Neng. Kata Pak Parto dengan senyum puas. Dia lalu menunduk menempatkan wajahnya tepat di depan liang vagina Irene yang terbuka. Matanya menatap tajam kearah kemaluan yang sudah basah itu, hembusan nafasnya makin terasa bersamaan dengan wajahnya yang makin mendekat.

Aaaahhh Pak ! desahan halus keluar dari mulut Irene saat Pak Parto menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya. Gerakan lidah Pak Parto seperti ular yang menggeliat menyapu seluruh permukaan bibir vagina Irene. Irene merintih merasakan tubuhnya seperti didesak oleh kekuatan dari dalam, seperi gunung berapi yang tersumbat. Hal itu membuatnya makin tidak terkendali, desahannya sudah berubah dari desahan ketakutan menjadi desah nikmat.

Lidah Pak Parto semakin liar saja, sadar kalau korbannya sudah mulai goyah, kini lidah itu memasuki liang vagina Irene dan bertemu dengan klitorisnya. Badan Irene bergetar seperti tersengat listrik dengan mata merem-melek. Bukan saja menjilati, Pak Parto juga memutar-mutarkan telunjuknya di liang itu, sementara tangan lainnya mengelusi paha dan pantatnya yang mulus.

Permainan mulut Pak Parto pada daerah yang paling pribadinya itu mau tidak mau membawa perubahan pada dirinya. Geliat tubuhnya sekarang tidak lagi menunjukkan perlawanan, dia nampak hanyut menikmati perlakuan Pak Parto, hati kecilnya menginginkan Pak Parto meneruskan aksinya hingga tuntas.

Dibawah sana Pak Parto makin meningkatkan serangannya menjilat dan mengisap vaginanya.

Mmmmhh tempiknya Neng emang hebat banget, rajin dirawat yah ? gumam Pak Parto ditengah aktivitasnya. Irene tidak mendengarkan ocehan Pak Parto, seluruh perasaannya kini tertumpah pada sensasi yang didapatkannya dari perlakuan Pak Parto. Sepuluh menit kemudian, tanpa dapat ditahan lagi cairan pelumas membanjir keluar dari vaginanya diiringi erangan panjang, tubuhnya menggelinjang dan menegang tak terkendali.

Aaaaahhhhhh…. diirngi jeritan tertahan, Irene mengalami orgasmenya yang pertama, perasaannya bagaikan gunung berapi yang sumbatnya telah lepas, meledak dengan begitu dahsyat melontarkan apa yang sedari tadi ditahannya.

Tubuh Irene kembali lemas dengan nafas terengah-engah, sensasi orgasmenya benar-benar membuat tubuhnya seperti melayang di angkasa. Melihat itu Pak Parto makin yakin kalau Irene sudah sepenuhnya ada di dalam genggamannya. Maka dia mulai membuka pakaiannya sampai telanjang, dan penisnya yang sedari tadi memang sudah menegang sekarang mengacung begitu sangar di hadapan Irene. Perlahan Pak Parto mulai menindih tubuh mulus Irene yang basah olah keringat. Aroma parfum mahal yang dipakai oleh Irene membuat nafsu Pak Parto makin menggelora. Perlahan diciumnya bibir Irene dengan lembut beberapa kali, lalu dipeluknya tubuh mulus itu sambil berusaha mendesakkan penisnya di kemaluan Irene.

Ooooohhh….. Irene merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Pak Parto meringis menahan sakit merasakan penisnya tergesek dinding vagina Irene. Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu akhirnya terbenam seluruhnya di dalam vagina Irene. Mata Irene sudah basah oleh air mata, tangisan yang disebabkan rasa putus asa, nyeri, dan ketidakberdayaannya dalam pelukan seorang pria tua.

Oohh.. masuk juga akhirnya.. Pak Parto mendengus lega. Gila, tempiknya Neng Irene seret banget lho..

Lalu Pak Parto mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, mula-mula pelan, tapi setelah beberapa saat setelah dirasakannya vagina Irene terbiasa menampung penisnya, gerakan Pak Parto makin teratur, Vagina Irene yang masih sempit mulai licin dan lancar meskipun masih sangat menjepit. Pak Parto melakukan persetubuhan dengan gerakan yang liar, kadang pelan dan lembut, kadang kasar dan sangat cepat seperti dikejar setan. Gerakan-gerakan liar itu membuat Irene makin tersapu oleh sensasi liar di dalam tubuhnya. Setelah mengalami orgasme, desakan seksualnya menjadi makin liar mambuatnya terlihat sangat menikmati persetubuhannya dengan Pak Parto.

Setelah hampir sepuluh menit mereka bersatu, Irene tidak tahan lagi, dorongan nafsu seksualnya sudah mangalahkan akal sehatnya, diapun mengerang dan mendesah seirama gerakan penis Pak Parto yang menggenjot vaginanya.

“Aaaaaaaakhhhhhh..”, Irene mengerang keras, dia kembali mengalami orgasme, meskipun tidak sehebat yang pertama, tapi cukup kuat untuk membuat vaginanya berdenyut kencang. Pak Parto merasa penisnya seperti dicengkeram tangan baja yang membetotnya seperti mau dicopot dari badannya. Sensasi jepitan vagina Irene yang begitu kuat membuatnya tidak tahan lagi.

Aaaahhhhh mau keluar nih, aaaahhhhh Bapak mau keluar nih..” erang Pak Parto kuat-kuat, dijambaknya rambut Irene, lalu dengan satu dorongan terakhir yang membuat penisnya membenam total di dalam vagina Irene, Pak Parto melepaskan orgasmenya, menyemburkan sperma yang begitu banyak ke dalam rahim Irene.

Tubuh-tubuh telanjang itu terkulai lemas saling bertumpuk, menciptakan pemandangan yang sangat menggairahkan dimana sosok Irene yang putih mulus dan bagitu ramping ditindih oleh tubuh gendut dan hitam Pak Parto.

Setelah puas merenguk kenikmatan birahi dari tubuh Irene yang sexy itu, Pak Parto kemudian bangkit dari ranjang. Diliriknya tubuh telanjang Irene yang terikat dan tergolek tanpa daya di ranjang. Pak Parto tertegun sambil sekaligus senang ketika dia melihat bercak darah di sekitar selangkangan Irene. Berarti Irene memang benar-benar masih perawan sebelum diperkosa olehnya. Karena itulah Pak Parto kemudian mencium kening Irene sambil berujar, Terima kasih Neng sudi memberikan keperawanannya sama Bapak.

Irene hanya bisa menangis mendengarnya, kesadarannya perlahan pulih, membuat dirinya merasa diperlakukan secara hina. Tapi dalam keadaan seperti ini, Irene benar-benar tidak sanggup melawan keinginan Pak Parto. Pak Parto pun yakin kalau Irene tidak akan melawannya lagi, karena itulah dia memutuskan untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Irene. Irene sendiri tidak berbuat apa-apa meskipun dirinya sudah tidak terikat. Dia hanya bisa tergolek di atas ranjang, menunggu nasib selanjutnya.

Melihat tubuh yang mulus dan telanjang itu tidak berdaya di atas ranjang rupanya membuat birahi Pak Parto kembali meninggi. Masih dalam keadaan bugil, Pak Parto mengocok-ngocok penisnya sendiri, lalu dia kembali menaiki ranjang. Ditariknya tangan Irene sehingga Irene sekarang tersimpuh di ranjang. Tiba-tiba Pak Parto menyorongkan penisnya yang setengah berdiri ke wajah Irene.

Sekarang Neng Irene tolong emut punya Bapak dong.. kata Pak Parto sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke wajah Irene dengan gaya santai.

Irene menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik melihat penis yang legam itu seperti pistol yang menodong wajahnya.

Jangan takut Neng, entar juga enak kok.. kata Pak Parto masih dengan gaya santai, seolah menyodorkan permen kepada anak kecil. Irene kembali meneteskan air mata menggeleng, hal itu membuat Pak Parto tidak sabar, ditariknya rambut Irene sampai wajahnya mendongak, lalu digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Irene. Irene pelan-pelan menurut, dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti menelan permen besar, penis Pak Parto meluncur masuk ke mulutnya. Terasa ada cairan sedikit pada ujungnya, kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan lembut, sesekali Irene mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga, lama kelamaan Irene mulai terbiasa dengan penis Pak Parto dan mulai dapat menyesuaikan diri, Irene menjilati samping-sampingnya hingga ke buah pelirnya, Irene bahkan memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian Irene kembali memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. Pak Parto mendesah merasakan kehangatan mulut Irene, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya.


Uuukhhhh gitu Neng, enak mmmmhhh ! gumamnya sambil memegangi kepala Irene dan memaju-mundurkan pinggulnya. Irene merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Pak Parto yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.

Pak Parto yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Irene makin meledak, lalu dengan menahan kepala Irene diselangkangannya menggunakan kedua tangannya, dengan kasarnya Pak Parto menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penis itu menggenjot mulut Irene.

Aaaaggh..aaaaaggh… . suara Irene terdengar tersedak oleh penis Pak Parto. Tangan Irene berusaha menahan pinggul Pak Parto agar tidak bisa memompa penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Irene sia-sia saja, Pak Parto dengan kuat mencengkeram kepala Irene dan mennyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar membuat Irene menggelepar berusaha untuk bernafas dengan baik

Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Pak Parto menekan kepalanya sambil melenguh panjang. dirasakan sebelumnya. Pak Parto masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati wajah Irene.

Aaahhhhh… Oohhhh… Pak Parto kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Irene merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. Pak Parto menyemprotkan spermanya ke wajah Irene dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan rambut gadis itu.

Oooohhhh.. lenguh Pak Parto yang kali ini benar-benar puas telah berhasil melepaskan keinginan seksualnya pada gadis cantik itu. Pak Parto akhirnya terkapar di ranjang karena kelelahan, dibiarkannya Irene yang terdiam sambil menangis.

Akhirnya, dengan tubuh gemetar kerena sakit dan kelelahan, Irene mencoba bangkit dari ranjang, dia mencoba mencari pakaiannya, tapi satu-satunya yang ada hanyalah bajunya yang longgar, itupun dalam keadaan berantakan, celana panjangnya hilang entah kemana sementara pakaian dalamnya sudah menjadi cabikan-cabikan kain yang tidak mungkin bisa dipakai lagi. Dengan tertatih-tatih Irene menuju ke kamar mandi, di sana dia membersihkan bekas-bekas perkosaan yang baru saja dialaminya. Tangisnya kemudian meledak di kamar mandi. Dirinya merasa sangat hina, apalagi membayangkan kalau dia hamil akibat perkosaan ini. Irene tidak bisa membayangkan dirinya yang anak orang kaya dihamili oleh orang yang status sosialnya teramat jauh darinya. Irene lalu mencoba keluar dari rumah Pak Parto, tapi seluruh jalan keluar sudah dikunci oleh Pak Parto. Akhirnya Irene hanya bisa duduk di sudut ruang tengah sambil memeluk lututnya, kemudian karena kelelahan dia akhirnya tertidur.

Tapi belum lama Irene tertidur, sebuah usapan halus pada rambutnya membuat Irene terbangun, dilihatnya Pak Parto yang hanya bercelana kolor berdiri di depannya. Irene merapatkan tubuhnya ke tembok batu dingin di belakangnya dengan ekspresi ketakutan.

Nggak apa-apa Neng, Bapak Cuma mau ngajak Neng Irene makan, kata Pak Parto lembut, entah kelembutannya benar-benar tulus atau sekedar pura-pura. Irene yang memang lapar akhirnya menurut dibimbing Pak Parto ke meja makan. Makanan yang hangat terhidang di atas meja membuat perut Irene mendadak berkeruyuk. Diapun mulai makan tanpa mempedulikan apa-apa.

Seperti ada tenaga baru yang mengaliri tubuh Irene yang lemas setelah persetubuhannya dengan Pak Parto begitu dia makan. Entah apa bumbu yang dimasukkan oleh Pak Parto di dalam makanan yang mereka makan, rasanya seperti ada yang menyalakan api unggun di dalam tubuh Irene membuat tubuh Irene menjadi berkeringat. Api besar di dalam tubuh Irene makin menari-nari dengan liar saat Pak Parto tanpa disadari sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya dari belakang. Irene mendesah saat tangan Pak Parto meluncur masuk ke balik bajunya melalui kerah lebarnya dan bergerak meraba payudaranya yang tidak memakai BH.

Aaaaahhhhh… Irene mendesah pelan, Pak Parto melancarkan ciuman-ciuman ringan di pipi dan leher Irene membuatnya menggeliat. Tanpa sadar Irene memalingkan wajahnya hingga berhadapan dengan wajah Pak Parto yang hitam. Pak Parto tanpa ragu mulai mencium bibir Irene dengan lembut. Bibir tebal itu kemudian mengulum dan melumat bibir Irene yang lembut. Perlahan Irene mulai merespon dengan ciuman lembut pula. Untuk beberapa menit sepertinya kedua orang berbeda jenis itu seperti saling gigit.

Ooohh… jangan Pak.. Irene mendesah saat Pak Parto mulai membuka baju longgarnya sambil terus menciumi bibirnya yang merah merekah itu.

nggak apa-apa Neng.. kata Pak Parto lirih di telinga Irene . Hembusan nafasnya di telinga Irene membuat tubuh Irene meremang. Irene kembali terperangkap oleh permainan Pak Parto yang membuat gairahnya kembali bangkit, hingga dia tidak menyadari baju yang dipakainya sudah berhasil ditanggalkan oleh Pak Parto sehingga dia sekarang kembali telanjang bulat. Pak Parto kini memposisikan dirinya menghadapi Irene sambil mengagumi keindahan payudara Irene yang memang lembut itu. Perlahan diremasnya payudara itu, lalu diciuminya dengan lembut sambil putingnya dijilat-jilat dan dikulum. Sesekali Pak Parto menggigit puting payudara Irene dengan bibirnya membuat Irene tersentak menahan desakan birahinya.

Ouuhhh… Irene merintih, dia memegangi sandaran kursi yang didudukinya dengan kuat saat tubuhnya mulai menegang. Pak Parto makin gencar membelai dan meremas-remas payudara mulus Irene mulai dari gerakan paling lembut sampai gerakan kasar seperti orang meremas pakaian basah. Cara Pak Parto meremas payudara Irene membuat Irene makin tidak berdaya menahan desakan birahinya, apalagi kemudian Pak Parto mulai meraba bagian selangkangan Irene, sentuhan-sentuhan jari Pak Parto pada klitoris Irene membuat birahinya makin cepat terbangkitkan. Irene tidak tahan lagi, dia merasa tubuhnya mau pecah dihimpit desakan orgasme. Akhirnya hal itu terulang lagi. Tubuh Irene menegang dengan begitu kuat melengkung ke belakang sampai kepalanya terjuntai ke belakang.

Oooohhhkhhh… Aaahhhhh… kembali Irene mengerang kuat, dan vaginanya kembali mengucurkan cairan, orgasmenya meledak tanpa tertahankan. Beberapa detik tubuh Irene mengejang sebelum akhirnya terkulai lemas.

Orgasmenya itu membuat Irene tak bersuara ketika Pak Parto membungkukan tubuhnya ke meja yang masih ada sisa makanan di sana, hingga sekarang mulai pinggang hingga kepala Irene terbaring menelungkup di atas meja makan, sementara kakinya masih di lantai. Irene tidak sekalipun melihat ke arah Pak Parto, dia hanya berdiri, dengan setengah tubuhnya terbaring di meja, buah dadanya menjadi bantalan bagi tubuh Irene di meja, menempel pada meja kayu itu.

“Pantatnya Neng benar-benar indah..”, kata Pak Parto sambil meraba dua bulatan pantat Irene. Irene memang punya pantat yang sempurna, apalagi kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang ramping, bentuknya sempurna, penuh, lembut, halus dan tanpa noda. Pak Parto meraba, meremas dan menarik pantat Irene, membuat Irene melonjak di meja. Pak Parto segera melucuti celana kolornya sehingga dia kembali bugil, sambil terus memandang pantat Irene yang luar biasa itu. Penis Pak Parto langsung mengacung keluar, dan Pak Parto siap memasukkan semuanya ke tubuh Irene. Irene mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang sehingga di bisa melihat Pak Parto telah siap kembali untuk menyetubuhi dirinya , wajah Irene berkilat karena air mata. Perlahan Pak Parto membuka kedua belah paha mulus Irene lebar-lebar, lalu diarahkannya penisnya ke liang vagina Irene.

Wajah Irene mengernyit dan gemetar, erangan keluar dari mulutnya pada saat penis besar itu meluncur masuk tanpa kesulitan ke dalam liang vaginanya. Pak Parto juga mengerang, setelah itu terdengar suara daging bergesekan dengan daging, Bibir Irene bergetar, air mata mengalir lagi dari matanya ketika terdengar suara tubuh berbenturan dengan tubuh yang lain, terus berulang-ulang.

Pak Parto mendesakkan penisnya kuat-kuat dengan genjotan bertenaga, gerakannya tidak teratur membuat Irene terbanting-banting di meja, erangannya makin terasa memelaskan, tapi erangan itu justru membuat Pak Parto makin liar menyetubuhinya.

Gimana Neng, suka? tanya Pak Parto ditengah-tengah usahanya menyetubuhi Irene. Irene hanya mengangguk sambil memandang Pak Parto dengan tatapan sayu dengan wajah bersimbah air mata.

Irene semakin larut dengan permainan Pak Sekdes pada vaginanya. Pak Sekdes memompa vagina Irene dengan cepat kemudian melambat dan cepat lagi, begitu seterusnya. Hal ini membuat Irene semakin mendesah-desah kenikmatan, lelehan cairan kewanitaannya sudah keluar dan membasahi kedua paha bagian dalam Irene. Saking larutnya dalam permainan, dengan tidak sadar Irene yang menggerakan pinggulnya apabila Pak Parto dengan sengaja menghentikan genjotan panisnya pada vagina Irene.

15 menit diperlakukan demikian, tiba-tiba badan Irene mengejang keras, kakinya kembali menjinjit, tangannya memegang keras tepian meja, matanya terpejam erat dan mulutnya sedikit terbuka menandakan Irene semakin mendekati orgasme.

Aaaaaaaaaahhhhhhh… … teriak Irene keras sambil mengeraskan pegangannya. Irene mengalami orgasme yang sangat tinggi, kedua pahanya dirapatkan dan badannya mengejang keras untuk beberapa menit. Untuk beberapa saat, Pak Parto tetap membiarkan penisnya terbenam di vagina Irene. Irene yang masih merapatkan kedua pahanya tersebut, terlihat sekali menikmati orgasme yang baru dialaminya. Meski begitu Pak Parto belum puas. Segera dia menarik penisnya dari jepitan vagina Irene, lalu dengan gerakan cepat tubuh Irene dibalikkan dan diangkat ke atas meja sampai terlentang, sementara kakinya masih menjuntai ke bawah. Sekarang di atas meja tersebut tubuh gadis berkulit putih itu terbaring telanjang bulat, payudaranya mencuat hingga membentuk gundukan mulus. Perlahan Pak Parto memeluk kedua paha gadis itu dan menyampirkannya di pundak kiri kanannya. Dan sekali lagi Pak Parto mendorongkan penisnya ke liang vagina Irene, membuat Irene meringis.

Kemudian kembali Pak Parto membuat gerakan maju mundur mendesakkan penisnya ke dalam vagian gadis cantik itu. Irene yang sudah dipengaruhi orgasmenya tidak kuasa melawan, dia bahkan menikmati genjotan penis Pak Parto di dalam vaginanya.

“Oouwwhh…… aaakkhh… oooohhh…….” Irene mendesah-desah sambil mengejang, tangannya mencengkeram keras pingir-pinggir meja, desahannya perlahan mulai taratur seirama dengan genjotan Pak Parto pada vaginanya. Pak Parto terus memompa batang kemaluannya masuk ke dalam liang vagina Irene. Pak Parto kemudian melebarkan kaki Irene sehingga berbentuk huruf V, dan terus memompa masuk dengan buas sambil tangannya meremas-remas payudara Irene. Irene makin terangsang dengan perlakuan Pak Parto yang liar itu, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil menggeliat-geliat penuh kenikmatan. Kocokan demi kocokan terus menghujam vaginanya sampai sampai terlihat seperti ada busa yang mengalir keluar dari vaginanya. Cairan vagina Irene terkocok sampai tuntas dan mengucur membanjiri selangkangannya. Dengan penuh nafsu Pak Parto mempercepat genjotannya pada vagian Irene, sesekali dia kembali menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali Irene ganti menggoyangkan pantatnya maju mundur. Hal itu terjadi berkali-kali, bahkan saat Pak Parto mendorong tubuh Irene hingga batang kemaluannya keluar dari liang kemaluan Irene. Secara refleks diluar kemauan Irene, dia menggerakkan pantatnya sendiri.

Setelah hampir 15 menit, tampak tubuh Irene berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Irene menjadi tak teratur sambil terus merintih keras dan panjang,

“Oouwwhhh… Akkkhhh… Ooohhh…!” Irene mengerang keras membuat Pak Parto semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya membuat Irene merintih panjang, seluruh tubuh Irene kembali menegang dan menggelinjang selama beberapa detik dan Pak Parto menyadari Irene sedang mengalami orgasme dahsyat dan kenikmatan luar biasa. Bersamaan dengan itu Pak Parto juga menekan keras penisnya ke dalam vagina Irene.

Aaaaahhhhhhhhh.. Pak Parto mengerang keras sambil memuncratkan spermanya ke dalam vagina Irene. Sesaat tubuhnya juga menegang sebelum akhirnya melemas kembali.

Pak Parto yang masih berada di atas tubuh Irene sesaat menekan penisnya dalam-dalam di vagina Irene menikmati cengkeraman vagina Irene sampai tuntas. Dipandanginya wajah cantik yang basah oleh keringat dan air mata itu. Lalu perlahan Pak Parto kembali mencium pipi dan bibir Irene dengan kecupan-kecupan lembut, seolah ingin mengucapkan terima kasih atas kenikmatan seksual yang diberikan oleh Irene kepadanya. Lalu perlahan dia menarik tubuh Irene berdiri di dalam dekapannya. Dipeluknya tubuh putih mulus itu dengan erat sambil sesekali bibirnya menciumi bibir Irene seolah tidak pernah puas merasakan sentuhan bibir merah Irene. Pak Parto kemudian membawa Irene masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar itulah selama semalam suntuk Pak Parto menuntaskan nafsu seksualnya pada Irene. Gadis kota yang cantik itu dibuatnya tidak lebih dari seorang budak seksual yang harus selalu bersedia melakukan persetubuhan dengannya. Entah sudah berapa kali Irene dipaksa melakukan hubungan seksual oleh Pak Parto. Irene tidak bisa menghitung lagi, tubuh dan pikirannya sudah terlalu tersiksa untuk berpikir.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *