Download APLIKASI UNTUK MENONTON FILM BOKEP YANG TERBLOKIR
X CLOSE Situs Poker Online Terpercaya

indosexqq Dapat Jatah ML dari Pacar Cadangan

Cerita Dewasa Dapat Jatah ML dari Pacar Cadangan – Kenalkan nama saya Jecky. Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus . Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengen aku ceritakan.

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Susi. Tapi dalam kisah ini bukan Susi tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Susi. Malah waktu itu aku lagi marahan sama doi.

Waktu itu aku anggap Susi nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah 3 bulan pacaran, masa Susi hanya ngasih cium pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengen banget sih. Tapi si Susi menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel karena ngambek. Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah ngelayap kemana. Rumah besar yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi.

Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Vera sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedangkan Vira, adiknya Vera entah ngelayap kemana. Yang ada tinggal Virnia si anak bungsu dan Lisa sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya.

Terdengar irama lagu India dari dalam rumah besar itu, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood. Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Virni datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Jecky?” sapanya ramah, perlu diketahui kalau Virnia memang orangnya ramah banget.

“Ngapel sama siapa, Nia?” jawabku sambil terus memainkan gitar.

“Aah… Mas Jecky ini pura-pura lupa sama pacarnya.”

Gadis itu duduk di sampingku, ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Virnia cuman pakai celana longgar sebatas lutut. Aku cuman tersenyum kecut.

“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Virnia. Gadis itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kasian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”

Aku menghentikan petikan gitarku.

“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Virnia deh ketimbang sama dia.”

Nah lo ! Tiba-tiba benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit putih itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Virnia ada maunya sama aku.

“Nia, kok diam aja? Malu yah…”

Virnia melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku terasa, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas 1 SMA tapi kok perawakannya udah kayak anak kuliah aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya.

Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Virnia yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Jecky bantu aku ngerjain PR MTK?”

“Yah Nia, malam minggu kok ngerjain PR? Mendingan pacaran sama Mas Jecky, iya nggak?” pancingku.

“Ah, Mas Jecky ini bisa aja godain Nia..”

Virnia mencubit pahaku sekilas. Seeer.. Wiiiih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?

“Mau nggak Mas, tolongin Virnia?”

“Ada upahnya nggak?”

“Idiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”

Cubitan kecil Virnia kembali memburu di pahaku. Seeeer… kok malah tambah merinding begini ya?

“Kalau diupah cium sih Mas Jecky mau loh.” pancingku sekali lagi.

“Aaahh… Mas Jecky nakal deh…”

Sekali lagi Virnia mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Nia biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Nia ambil bukunya trus ngerjain PRnya di kamar Mas Jecky aja. Nanti tak bantu ngerjain PR, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah tersebut. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai 5 menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku. Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain PR, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Lisa kalo kamu kemari?”

“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Jecky.”

“Trus si Lisa gimana? Nggak marah?”

“Ya enggak, ngapain marah.”

“Sendirian dong dia?”

“Mas Jecky kok nanyain Lisa mulu sih? Sukanya sama Lisa ya?” ujar Virnia merajuk.

“Yeee… Virnia marah. Cemburu ya?”

Virnia merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumahnya.

“Nia udah punya pacar belum?” tanyaku memancing.

“Belum tuh.”

“Pacaran juga belum pernah?”

“Katanya Mas Jecky mau ngajarin Virnia pacaran.” balas Nia.

“Nia bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.

“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihat Virnia tertunduk malu.

“Nia suka sama mas Jecky ?”

Nia memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Virnia.

“Nia suka sama Mas Jecky ?” ulangku.

“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…

“Mas Jecky mau cium Nia, Nia nurut aja yah…” bisikku ke telinga Virnia

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Virnia menutup matanya lalu membasahi bibirnya. Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmeeemhhh..mwwuuuahhh… kuhisap bibir mungil itu.

“Eeemmhhh.. eeeeemmh..” Virnia mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya.

Kuperas-peras payudara Virnia penuh perasaan. Ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku. Bibirku merayap menyapu leher jenjang Virnia. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Virnia.

“Eeeemmmhhh.. Mass Jecckkyy jangan… aku uuuuuhhh….

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Virnia.

“Nia… kaosnya dilepas ya sayang…”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka semua kancing kaos Virnia satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Virnia bergantian dari balik kaos.

Tak tega rasanya membiarkan Virnia kehilangan kenikmatannya. Jari Virnia menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa baju yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Virnia ciptakan.

Kaos Putih Virnia terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Virnia dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah jatuh ke ranjang. Dua gundukan gunung itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Waaw… payudara Virnia yang berukuran 34B membengkak. Ujungnya yang merah muda menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Virnia. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Virnia memicingkan mata.

“Virnia… buahnya udah gede banget Nia…”

“Udah waktunya dipetik ya mas Jecky ??

“Hemmhh, biar aku yang metik ya Niaa..

Aku berada di atas Virnia. Tanganku segera bekerja membuat kenikmatan demi kenikmatan di dada Virnia. Putar..putar.. kuusap memutar pentil bengkak itu.

“Aaaawwwhhh…Mas Jeckkyyy… Aku nggak tahan Mas.. kayak kebelet pipis mas..” rintih Virnia.

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyedot payudara Virnia dengan mulutku.

“Mmmeemhhh srruuupp… Mmeemmhh…” ku kenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.

“Mass… sakiit..” rintih Virnia sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Virnia sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta. Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Virnia menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD putih yang dikenakan Virnia telah basah.

“Nia kencing di celana ya Mas Jecky ??

“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Virnia tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangannya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang memek itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Virnia.

Merah merona, vagina yang masih perawan. Tak tahan aku melihat memek itu. Segera aku keluarkan penisku dari sarangnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya Nia sayang… Eeemmmhhhh

“Aaaauuuwwwwwhhhhh sakiiit mas Jecckkyyy……

“Eeemmmhh rileks aja….”

“Mas…. Aaaaaaaaahhhh !!!” Virnia menjambak rambutku dengan liar.

Jleeeeebbbb….. batang penisku yang perkasa menembus lubang perawan Virnia yang masih sempit. Untung saja vagina itu berlendir jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit dan terasa masih sempit sekali.

“Aaauwwwhhh Mas Jeckyy sakiiit…” rintih Virnia.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.

“Jlleeeeebbb…..”

Langsung masuk seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Virnia. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai dihimpit oleh dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang….” tanyaku.

“Enakkk…Eemmhhhhh…” Virnia menyukainya.

Ia pun ikut menggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Virnia berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Nia melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Eeeeemmmmhhhh.. Aaaaaaaaaahhh..” desis Virnia ketika tanganku mulai meremas-remasnya.

“Mas aku mau pipis nih….”

“Pipis aja Nia sayang.. nggak apa-apa kok.”

“Aaaaaaaahhhhh…..!!!”

“Eeemmmhhh…. Ooouwwhhh…..”

“Seeeer…. Croot.. Crooot… Crooottt….

Cairan memek Virnia keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Aaaaaaaaahhhhh… lega rasanya…

Kutarik kembali penisku yang perkasa. Darah perawan Virnia menempel di ujungnya bercampur dengan maniku dan cairan memeknya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Virnia pun terlelap kecapean.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *