Download APLIKASI UNTUK MENONTON FILM BOKEP YANG TERBLOKIR
X CLOSE Situs Poker Online Terpercaya

indosexqq Bersetubuh Dengan Gadis Karena Pesan Nyasar

Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Gadis Karena Pesan Nyasar – Perkenalkan, nama gw adalah Edi. Gw lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Jogya. Bagiku, sex adalah hal yang tabu, yang benar-benar tak terjamah. Terpikirkan pun tidak, sampai kisah ini gw alami. Cerita Sex ini dimulai dari salah kirim SMS. Saat itu, gw berniat mengirim SMS ke seorang teman cewek yang sudah lama kukenal.

Karena sudah tidak lama berhubungan, dan gw tidak punya catatan tentang nomor HP temanku tersebut, maka gw menuliskan nomor HP dengan agak mereka-reka. Segera kukirimkan SMS tersebut, berisi pesan yang kira-kira menyatakan bahwa gw kangen dan ingin bertemu dengannya! Hallo Lidia How Are U? I MISS U Na Satu kali SMS kukirim kepadanya, dia tidak menjawab. Aneh, pikirku. Tak mungkin temanku itu tidak membalas kalau tahu SMS tersebut dariku. Kemudian kukirimkan sekali lagi, dan kucantumkan nama gw. Tak lama kemudian, ia membalas dengan miss call. Karena saat itu gw sedang sibuk, kubalas saja miss call nya dengan pesan SMS yang menyatakan bahwa gw akan meneleponnya sore nanti.

pukul 5.30 langsung kutelepon temanku itu, seperti yang kujanjikan. Halo, Lidia?, Tanya gw sejenak, ragu. Saya pikir anda salah orang, begitu tanggapan lawan bicara gw. Oh, maaf. Saya pikir anda adalah teman saya. Memang saya tidak ingat betul nomor HP-nya. Maaf kalau telah mengganggu, jawabku sambil menahan malu. Oh, tidak apa-apa, jawab lawan bicara gw lagi. Saat itu juga hendak kumatikan teleponku, namun lawan bicara gw segera bertanya. Memang yang mau kamu telepon ini siapa sih? Kok pake kangen2 segala?, ungkapnya, menggoda. Lalu kujawab bahwa Lidia adalah teman lama gw, dan kami telah berkawan selama 6 tahun. Singkat kata, akhirnya kami berkenalan. Dari telepon itu, gw tahu bahwa nama wanita tersebut ternyata adalah Lidia juga.

Sejak saat itu, kami sering berkirim SMS. Kadang-kadang gw malah menelponnya. Namun, tidak ada niat sedikitpun dalam diriku untuk menemuinya, atau melihat wajahnya. Toh tidak ada maksud apa-apa, pikirku. Sebulan berjalan sejak perkenalan itu, entah mengapa, isi pesan SMS berubah menjadi hal-hal yang agak menjurus ke sex. Tiga bulan berjalan sejak perkenalan kami lewat telepon. Tiba-tiba, Lidia mengirim SMS yang menyatakan ingin bertemu. Mengapa tidak, kupikir. Toh tidak ada ruginya untukku. Saat itu pikiranku belum berpikir jauh sampai ke sex.

Kami janjian sore pukul 16.30. Kebetulan hari itu hari libur. Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, gw segera meneleponnya. Gua pake sweater pink, kata Lidia. Segera kutemui Lidia yang sedang berdiri menunggu. Hai, Lidia ya? tanya gw. Lidia segera tersenyum. Wajahnya memang lumayan cantik, tubuhnya pun OK lah. Namun, gw memang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan fisik. Segera kuperkenalkan diriku. Gua Edi, kata gw. Memang pergaulanku dengan wanita tidak intens, sehingga saat itu gw sedikit gugup. Namun, segera kututupi kegugupanku dengan sedikit jaim. Kami segera menjadi akrab. Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court.

Edi, suka nyanyi-nyanyi gak?, tanya Lidia setelah kami selesai makan. Suka, tapi tidak di depan umum, begitu jawabku. Sama dong. Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak untuk nyanyi di karaoke? Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain. tanya Lidia. Kupikir, asyik juga ya, untuk melepas lelah. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku.

Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Lidia permisi kepada gw untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Lidia kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.

Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang keempat. Lidia memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Lidia. Halus sekali, pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Lidia pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku. Dingin ya? tanya Lidia, kepada gw, sambil melihat tanganku. Iya, jawabku mengangguk lemah. Segera Lidia mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali gw mengelus pipinya yang lembut, namun gw agak takut-takut. Perlahan-lahan Lidia mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.

Wangi aroma tubuh Lidia segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Lidia. Ia menatapku. Gw balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Lidia diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Lidia benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Lidia sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Lidia dengan rasa sayang.

Tiba-tiba Lidia menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Lidia diam saja. Gw mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Gw semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater pinknya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Lidia mendesah. Ssseeeessssshh, desahnya.

Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Lidia mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini, pikirku karena memang gw belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena gw belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Lidia. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.

Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Lidia. Lidia kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Lidia menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah. Montok kan punya gua? begitu ungkap Lidia saat tanganku mengelus lembut vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal gw tidak bisa membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya, seraya desahan Lidia mengiringi gerakanku. Sseeesssh.. Oooohhh, Edi. Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut, begitu terus desahnya. Tersanjung juga gw dipuji dirinya.

Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. Edi, kamu jangan pulang dulu ya. Gw ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar gw di hotel ya? tanya Lidia kepada gw. Saat itu, gw agak takut. Takut gw tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Lidia mengerti ketakutanku. Gw cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Edi?, tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, gw takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, gw banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat gw tidak tega menolaknya. Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?, jawabku. Iya, gua janji deh, kata Lidia lagi.

Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Lidia menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, gw menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Lidia membentangkan tubuhnya di kamar tersebut. Edi, sini dong, kata Lidia. Gw mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Lidia. Gw dalam posisi duduk, sementara Lidia sudah telentang. Edi, belai gw lagi ya, kata Lidia. Segera tanganku mengelus dahi Lidia. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang.

Lidia menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Lidia membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Lidia benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Gw hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Lidia menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Lidia segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.

Lidia meronta-ronta dan mendesah. Aduuh Edi, geli sekali. Teruskan Edi, katanya. Kucumbu Lidia terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Lidia mendesah hebat. Sssssshh.. sshh.. ooohh, desah Lidia. Gw tidak bisa menahan diriku lagi. Lidia, boleh kubuka bajumu?, tanya gw pelan kepada Lidia. Lidia mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna merah. Kulanjutkan ciumanku di seputar payudaranya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Lidia mengerang. Edi, buka BH gua dong, pinta Lidia. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka BHnya. Sulit sekali membuka BHnya. Maklum, belum pernah gw membuka BH wanita.

Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan BHnya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting merah muda. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali gw menciumnya. Kupindahkan BHnya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari tokednya. Lidia mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke toked kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak tokednya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Lidia mengerang-ngerang. Aduuuuh, Edi..sssh..ssssh.. geli sekali. Terus Edi… Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. Auuuwww.. enak Edi.., Lidia menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 10 menit Lidia kuperlakukan seperti itu.

Edi, bukain celanaku dong.., pinta Lidia. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi Celana Dalam warna putih. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya. Ouuuhh.., rintih Lidia menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus vaginanya yang masih tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Lidia meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. Ouuuh.. ooooohhhh.. ronta Lidia. Gantian tangan Lidia yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya Kontolku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuuuh, nikmat sekali rasanya.. Edi, buka celana dalam gua.., pinta Lidia. Jangan Lidia, gua gak berani melakukan itu.. kata gw.

Gw bukan bermaksud munafik, tapi gw memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya. Tak apa-apa, Edi, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja, pinta Lidia memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Lidia. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. Elus lagi, Edi.., pinta Lidia. Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir vaginanya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Lidia meronta. Oooohh.. ooooohh. Ke atas lagi Edi. Elus klitorisku, begitu desahnya perlahan. Gw tidak tahu persis di mana klitoris. Gw terus mengelus bibir vaginanya. Segera tangan Lidia membimbing tanganku ke klitorisnya.

Baru sekali itu gw tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 3 putaran, Lidia langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. Edi, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Lidia. Gw sedikit ragu, dan jijik. Pake tangan aja yah, Lidia.., gw berusaha menolak dengan halus. Tolong dong, Edi. Sekali ini saja. Nanti gantian deh , pinta Lidia. Gw masih berat hati menghisapnya. Lidia, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti… Belum selesai gw bicara, Lidia segera memotongku. Kemaluanku bersih kok, Edi. Gw selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok, pinta Lidia lagi.

Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke memeknya Lidia. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Gw takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke vaginanya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. Terus, Edi….Ooooohh.. enak sekali, desah Lidia. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati vaginanya. Lidia makin mendesah. Oooohh.. ooohh.. ooohh.. oooohh. Lidia menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang vaginanya. Kamu nanti tidak kesakitan?, tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam vaginanya. Aaahh.., Lidia menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke vaginanya.

Saat kuarahkan jariku ke langit-langit memeknya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. ‘Ya, terus di situ Edi.. aaaahh.. enak sekali.. Kuteruskan untuk beberapa saat. Lidia makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Lidia menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. Aaah Edi.. gw mau keluaar.. erang Lidia. Lidia makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepala gw dengan pahanya. Aaaaahh.. Edi..gw keluar, desahnya. Segera kupeluk tubuh Lidia, dan kugenggam tangannya erat. Kubiarkan Lidia menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. Edi, enak sekali, kata Lidia. Gw diam saja.

Sekarang gantian, ya, kata Lidia. Gw mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi Kontolku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Lidia mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Gw merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya paha gw yang menutupi Kontolku. Lidia segera meraba-raba Kontolku. Oooh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Lidia tertawa. Enak kan, Edi? tanyanya menggoda gw. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. Mau diterusin gak, Edi? tanya Lidia sambil menggoda lagi. Gw hanya mengangguk.

Saat itu Kontolku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punya gw langsung keras. Akhirnya Lidia mendekatkan mulutnya ke Kontolku. Dikecupnya ujung Kontolku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. Edi, punya kamu enak. Bersih dan terawat, ujar Lidia. GR juga gw dipuji begitu. Dipegangnya gagang Kontolku, lalu Lidia mulai menjilati Kontolku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek gw meronta, melepaskan Kontolku dari mulut Lidia. Kenapa, Edi?, tanya Lidia. Gua gak tahan. Geli banget, sih? kata gw protes. Ya udah, pelan-pelan aja, ya? kata Lidia. Gw mengangguk lagi. Lidia mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.

Kuperhatikan Lidia menjilati Kontolku, tak terasa Kontolku segera mengeras. Lidia senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali Kontolku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya. Sekali lagi gw disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini. Aaaah.., tak kuasa gw menahan desahanku. Edi, kumasukan ya punyamu? tanya Lidia. Nanti kamu sakit, gak? tanya gw. Gw sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya Kontolku dikepit oleh vaginanya. Ya, kalau gw yang ngontrol sih, gak sakit, kata Lidia. Ya udah, kamu yang di atas aja, kata gw kepadanya.

Lidia segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya Kontolku menuju liang memeknya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung Kontolku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punya gw di sana untuk beberapa saat. Gw diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punya gw masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya. Sudah sepertiga dari panjang Kontolku yang berada dalam vaginanya. Dia diamkan lagi Kontolku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. Sakit? kutanya. Iya, tapi gak apa2. , jawab Lidia. Kemudian ia mendorong Kontolku makin dalam, hingga akhirnya semua Kontolku tertelan di dalam vaginanya. Terasa basah dan hangat vaginanya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Fitri mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Aaahh.. enak sekali menikmati Kontolku terjepit dalam vagina Lidia.

Gerakan pantat Lidia membuat Kontolku terkocok, dan segera gw merasakan kenikmatan yang tiada tara. Lidia pun seakan-akan begitu. Ooohh.. ooohh.. ooohh.. oooohh, Lidia mengerang-ngerang. Lidia terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku. Namun, ternyata Lidia tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Lidia sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering. Aaah.. aaah.. aaahh.. aaaahh.., desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Lidia makin merintih. Ssssh.. sssh.. sssssshh.. enak Edi.

Makin lama gerakan Lidia makin cepat. Edi, gw mau keluar lagi, Ediii.. rintihnya. Gw pun merasa Kontolku berdenyut kencang. Lidia, tolong lepaskan, gw mau keluar, kata gw. Gw takut sekali kalau sampai Lidia hamil. Tapi Lidia tidak mau melepaskan Kontolku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga gw tidak bisa melepaskan diri darinya. Tiba-tiba kurasa Kontolku menyemburkan cairan kuat di dalam vaginanya. Aduh, Lidia, jangan.. nanti kamu hamil.., teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam vaginanya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot Kontolku mengerut, dan menjadi kecil kembali.

Lidia dengan kecewa melepaskan Kontolku. Lidia, kalo kamu hamil gimana, tanya gw dengan setengah takut. Tenang aja, Edi. Gua pake alat kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya? kata Lidia menenangkan diriku. Kemudian, Lidia segera memijat-mijt Kontolku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi. Tak lama, Kontolku segera mengejang lagi. Segera Kontolku dimasukan lagi oleh Lidia ke vaginanya. Kembali Lidia melakukan gerakan maju mundur tadi. Oooouuuhh.. oooohh.. oooohh.. oooohh, erangnya. Kuremas lembut tokednya. Sssshh.. ssshh.. ssssshh, begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Lidia mengocok Kontolku dengan vaginanya, sampai akhirnya ia berteriak. Edi, gw hampir keluar, desah Lidia.

Segera Lidia mempercepat gerakannya. Gw pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya. Aaaahh.. Edi, gw keluar, desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum roboh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari. Alangkah Indahnya Hidup ini dibuat oleh Lidia dan gw tak akan pernah melupakan kenangan terindah di malam pertama bersama Lidia walaupun kini gw gak tau kabarnya si Lidia ini!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *